Articles by "Suku Mee"
Showing posts with label Suku Mee. Show all posts

Oleh. Bertinus Gobai
Dalam sejarah Orang Mee dan masyarakat Pegunungan Papua pada umumnya, nama Karel T. Gobai menempati tempat yang penting. Ia bukan hanya dikenang sebagai Bupati pertama dari Suku Mee, tetapi juga sebagai figur pamong pemerintahan awal yang memahami bahwa membangun wilayah tidak bisa dipisahkan dari membangun manusia.
Karel T. Gobai hadir pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ketika tata kelola pemerintahan masih sangat terbatas dan belum menyentuh seluruh wilayah pedalaman Pegunungan Papua. Pada masa itu, jabatan pemerintahan bukan sekadar posisi administratif, melainkan tugas berat untuk membuka jalan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat adat yang hidup dengan sistem nilai sendiri.
Dalam konteks inilah Karel T. Gobai menjalankan perannya. Ia dipercaya sebagai pamong pemerintah yang bertugas mengatur, mendampingi, dan menjadi penghubung antara struktur pemerintahan Belanda dan masyarakat Orang Mee dan terlebih khusus Pegunungan Papua saat itu. Perannya tidak hanya administratif, tetapi juga sosial dan kultural—menjaga agar kebijakan yang datang dari luar tidak memutus tatanan hidup masyarakat setempat.
Karel T. Gobai hadir pada masa ketika sistem pemerintahan modern mulai bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat adat di Pegunungan Papua. Dalam situasi itu, ia memikul tanggung jawab yang tidak ringan: menjembatani tata kelola pemerintahan dengan nilai-nilai hidup Orang Mee yang telah lama diwariskan secara lisan dan praksis sosial.
Namun yang membuatnya berbeda bukan semata jabatan, melainkan cara ia memaknai kepemimpinan.
Pemimpin yang Hadir di Tengah Rakyat
Sebagai bupati pertama dari Suku Mee, Karel T. Gobai tidak memimpin dari jarak jauh. Ia dikenal sebagai pamong yang hadir langsung di kampung-kampung, mendengar keluhan, menyaksikan konflik, dan memahami kehidupan masyarakat dari dekat. Ia menyadari bahwa pembangunan tidak akan berjalan bila masyarakat tercerabut dari martabat dan harga dirinya sendiri.
Dalam berbagai kesempatan, ia menyampaikan satu pesan yang kemudian dikenang dan diwariskan secara turun-temurun:
Mee harus Memanusiakan Manusia Mee itu Sendiri.
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Ia bukan sekadar ajakan moral, melainkan landasan berpikir sosial dan kepemimpinan bagi Orang Mee dalam menghadapi perubahan zaman.
Makna “Memanusiakan” dalam Konteks Orang Mee
Bagi Karel T. Gobai, memanusiakan sesama Orang Mee berarti:
* menghormati martabat manusia tanpa melihat status, jabatan, atau latar belakang,
* menyelesaikan persoalan dengan musyawarah, bukan merendahkan,
* menggunakan kekuasaan untuk melayani, bukan menekan,
* serta menjaga hubungan kekerabatan sebagai fondasi kehidupan bersama.
Ia melihat bahwa tantangan terbesar masyarakat bukan hanya keterbatasan infrastruktur, tetapi retaknya hubungan antar manusia akibat konflik, rasa iri, dan penggunaan kata-kata yang melukai harga diri sesama.
Karena itu, sebelum berbicara tentang kemajuan daerah, jalan, atau bangunan pemerintahan, ia menekankan pentingnya kesadaran kemanusiaan.
Kepemimpinan yang Berakar pada Nilai Adat
Sebagai pengemuka masyarakat, Karel T. Gobai tidak memisahkan pemerintahan dari nilai adat. Ia memahami bahwa Orang Mee memiliki sistem nilai yang kuat—tentang hormat, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif. Tugas pemimpin, menurutnya, bukan menggantikan nilai itu, melainkan menguatkannya dalam konteks pemerintahan modern di Pegunungan Papua.
Ia percaya bahwa masyarakat tidak akan maju bila sesamanya saling menjatuhkan, dan tidak akan kuat bila lupa bahwa manusia hidup karena saling menopang—seperti gunung yang berdiri karena tanah, akar, dan alam di sekitarnya.
Warisan yang Tetap Hidup
Karel T. Gobai mungkin tidak meninggalkan kemegahan fisik yang besar, tetapi ia meninggalkan warisan pemikiran yang terus hidup dalam percakapan, nasihat orang tua, dan refleksi generasi muda Orang Mee. Kalimatnya terus berjalan dari kampung ke kampung, menjadi pengingat di saat masyarakat menghadapi perbedaan, konflik, dan perubahan.
Dalam konteks Pegunungan Papua hari ini, pesan itu tetap relevan. Bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari kemampuan manusia menghargai manusia lain.
Penutup
Karel T. Gobai dikenang bukan hanya sebagai bupati pertama dari Suku Mee dan pelopor pemerintahan di **Pegunungan Papua**, tetapi sebagai pemimpin yang menempatkan kemanusiaan sebagai dasar pembangunan. Pesannya sederhana, namun mendasar:
> Sebelum menuntut kemajuan,
> manusia harus belajar memanusiakan sesamanya.
Itulah warisan paling berharga dari Karel T. Gobai—warisan yang tidak lapuk oleh waktu.