Articles by "Dr Socrates Sofyan Yoman"
Showing posts with label Dr Socrates Sofyan Yoman. Show all posts
 

---buku ini kalau dibaca semua orang maka secara otomatis gugur semua apa yang kita terima sejak kecil tentang Papua.....".----Maldova Ikhsan Abdulah.----

***
....Buku ini menampar wajah kita semua orang Indomesia......,". -----Arifin Mahendra----

***
Akal sehat kita mengatakan apa yang beliau tulis ini benar. ....satu jalan adalah biarkan mereka lepas".---Natsir Ruslani---

***
"Sesungguhnya siapapun yang punya nurani membaca buku ini akan merasa malu dan terpukul. Solusi terbaik adalah Rekonsikiasi dan kembalikan kedaulatan Papua seperti 1 Des 1961". ------Faiz Abdala-----

***
"Saya beruntung bisa mendapat buku ini. Wawasan saya terbuka dan seluruh kerangka pikir saya runtuh seketika. Selama ini otak menerima asupan racun yang saya pikir madu. Setelah membaca buku ini saya keluarkan racun dalam otak saya. ---Akbar M.---

***....buku ini membuka borok negara. ...kita sebagai warga negara Indonesia non Papua menjadi malu.... --Dharma Kusmaji---

***
....saya sarankan saja kalau ada stok. Buku ini dibagi luas untuk kita orang Indonesia agar tahu soal Papua sebenarnya dan terlebih kepada kaum muda yang bebas. ---Nurdin Adullah---

***
... kita akan berdiri dari sisi kemanusiaan. Untuk apa kita bersama satu bangsa tetapi mereka tidak diperhitungkan? Yang diperhitungkan hanya kekayaan dan SDA mereka".
 ----Cahyanti Kusumawati---

"Buku ini fakta kekerasan militer dan pejabat sipil terhadap rakyat asli Papua. ....kerakusan terhadap sumber daya alam. ... buku ini membuka borok negara. ...kita sebagai warga negara Indonesia non Papua menjadi malu. Kalau seperti ini dan daripada mereka punah lebih baik kembalikan kemerdekaan mereka 1 Desember 1961. Saya bersyukur karena bersama teman-teman mendapat buku gratis. Metode membagi buku ini efektif dan hal paling utama adalah kita bisa tahu hal yang sebenarnya tentang Papua.
---Dharma Kusmaji---

***
 "Membaca buku ini sambil meneropong tindakan kombatan Papua Merdeka adalah sebuah fakta bahwa mereka berjuang untuk bangsanya. Tulisan ini adalah lembaran darah dan air mata orang Papua menjadi sebuah daya yang mendorong kita untuk berdiri bersama orang Papua". ----Yanto Sadiq Koswara---

***
"Sungguh mengerikan dan mencengangkan kita atas berbagai hal yang terjadi di Papua selama ini. ... buku yang memaparkan prilaku aparat kita yang bertindak sewenang terhadap orang Papua. Siapa saja yang membaca buku ini pasti tercerahkan".
 ---Zadrak Matheus---

 ***
"Sebuah rekam jejak yang merekam peristiwa yang tidak manusiawi yang diperlihahtkan dalam buku ini. Kita meneropong kembali lorong waktu lalu, dan realita masa kini ternyata perlakuan terhadap manusia Papua itu adalah hal yang menyayat hati. Penulis buku ini menguggah hati dan pikiran kita sebagai bangsa untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi di Papua".
--- Mariana Koeswardhani---

***
"...Kita mempertahankan kecintaan untuk Negara, tetapi waktu yg sama kita korbankan nyawa sebagian anak bangsa di Papua. Pertanyaannya adalah kita pertahankan Papua itu demi bangsa Indonesia atau demi nafsu liar para petinggi negara dengan kaum oligarki mereka. Rasanya banyak nyawa orang Papua melayang sia-sia oleh karena kerakusan oknum Militer maupun pejabat sipil aparatur negara. Hak-hak orang Papua juga diabaikan. Maka buku ini adalah " jembatan" informasi yang berimbang dan aktual serta faktual yang perlu kita ketahui".---Basri La Ode---

****
Buku karya penting yang menjelaskan akar persoalan Papua secara jernih, lugas, dan berbasis pengalaman panjang seorang gembala yang selama puluhan tahun menyaksikan langsung luka sosial, kekerasan, dan dinamika politik di Tanah Papua. Buku ini sangat membantu karena mampu mengurai persoalan dalam bahasa yang dapat dipahami pembaca umum, namun tetap tajam dan penuh data pengalaman. 
....bahwa Papua bukan sekadar “wilayah” tetapi rumah bagi manusia yang memiliki hak hidup, hak menentukan masa depan, dan hak menikmati pembangunan yang adil."
 ----Mas Rudi-----

***
Kita telah banyak diracuni oleh berbagai informasi yang menyesatkan soal Papua. ...kita baca dan lihat kekerasan di Papua di balut dengan isu kepentingan negara. Buku ini membuka banyak tabir yang tidak kita ketahui. 
---Rahman Subair---

***
"Seperti pisau bedah ditangan dokter, membedah pasien, terasa sakit tetapi itu membawa kesembuhan. Demikian buku ini, seluruh untaian kata dan kalimat menyakitkan sebab menyajikan berbagai peristiwa yang menyakitkan tetapi itu demi kesembuhan Papua dan Indonesia". --- Agus Firmansyah ----

***
"Buku ini tidak enak di nikmati sebab rasanya seperti duri dalam tubuh. Duri yang Negara ini ciptakan sendiri. Sebab itu ibarat obat yang pahit tetapi membawa kesembuhan. Kita membaca buku ini sebagai orang Indonesia serasa kita memikul beban yang sebaian besar rakyat Indonesia tidak tahu tetapi dipaksa utk memikulnya."---Nelson Sambuaga---

***
'Ini buku adalah semacam CCTV yang mendokumentasikan semua peristiwa masa lampu. Negara tidak bisa berkilah dan cuci tangan sebab ketika membaca buku ini maka seperti kita meminta CCTV dibuka untuk menguji kebenaran siapa pelakunya dan apakah peristiwa itu benar? ...Saudara-saudaraku kalian berhak untuk berdiri dan berdaulat sebagai bangsa".--Priskila Permatashari--

***
"Buku yang bernilai melebih emas dan juga jembatan emas menyelesaikan masalah Papua".---Kostantinus Pandawa---

***
"Orang Papua tidak harus berjuang dengan senjata dan demonstran,... Tulisan adalah senjata yang sangat mematikan tanpa menghilangkan nyawa manusia. Buku ini adalah senjata yang melawan dengan penuh martabat dan kasih".---Basri Luhulima---

***
Buku yang tajam serta kritis terhadap masalah Papua. Buku ini akan semakin menarik kalau terus menerus dibagi kepada semua orang." ---Fathur Al Muthalib---

****
 "Buku seperti ini perlu disebarluaskan diantara orang-orang Papua terlebih generasi muda yang iwari..biar mereka paham sejarah Papua".---Pniel Yaman---

***
Kita orang Papua punya luka ini sudah terlalu dalam dan sakit sebab itu, buku ini kalau bisa bagi-bagi biar semua baca. Kita punya anak-anak usia sekolah ini otak sudah lama di cuci dengan sejarah palsu".---Selvina Ambuni---

***
"Buku Prabowo dan Tantangan Penyelesain Konflik Papua selesai saya baca. Bahkan baca berulang-ulang. Isi buku ini mempermalukan kita sebagai orang Indonesia..." ---Yahya Muslimin---

***
Siapa yang ingin tahu fakta Papua, maka silakan membaca buku ini. Isi buku ini jujur fakta yang terjadi di Papua. 
Isi buku hal-hal aktual Papua yang didalamnya tindakan yang dilakukan oknum aparat sipil maupun militer terhadap orang Papua dan SDAnya.
Penulis sebagai dokter yang mendiagnosa penyakit, bukan hanya mengobati tetapi mencari sumber penyakitnya, setelah itu melakukan langkah-langkah agar luka itu mati. Seperti itulah buku ini ini dibaca... Saya mendukung langkah dan perjuangan ini. 
---Sumanto al Bengawan----

***
'Kandungan dalam buku ini berisi fakta dan kebenaran yang tidak dibantahkan. Penulis telah menguraikan buku ini dengan jelas. Yang bisa memutarbalikan kebenaran adalah iblis tetapi akhirnya kebenaran itu menang".---Rahmat Simbolon---

***
Kebenaran tetap kebenaran. Penulis menggali dan membangkitkan kebenaran yang sengaja di kuburkan itu.
Kebenaran ini menyakitkan bagi mereka yang terbiasa menyembunyikan fakta dan perbuatan, tetapi menimbulkan sukacita dan kebahagian bagi mereka yang membenci ketidakbenaran. 
     ------ I made Karya----

***
"Bila diberi pilihan, percayakah buku yang ditulis oleh Pemerintah kita soal Papua yang selama ini diajarkan bila di bandingkan dengan tulisan Dr Socratez Yoman? Saya lebih memilih percaya buku yang Yoman tulis. Sebab yang di tulis oleh penguasa adalah menutup boroknya, sedangkan yang ditulis oleh Yoman adalah membuka borok untuk memperbaiki kondisi yang ditutup tersebut. Jadi, buku ini kalau dibaca semua orang maka secara otomatis gugur semua apa yg kita terima sejak kecil. Sekaligus memperlihatkan wajah monster oknum Pejabat Sipil dan Militer di Papua. 
----Maldova Ikhsan Abdulah.----

***
....saya membaca arah tulisan ini dengan memulai bab 1, 2 dan 3 awal untuk Prabowo tetapi selanjutnya adalah buku ini diperlihatkan semua kejahatan negara di Papua yang hadir lewat kaki tangannya baik Pejabat Sipil dan MIliter. ...kekayaan alam membuat para kaum Oligarki tidak melihat manusianya tetapi SDAnya". 
        ---Lius Sparta---

***
Sejarah bangsa Papua terkikis habis dan diganti oleh sejarah palsu dari Indonesia. Buku ini kami kasih anak- anak kami baca karena kami tahu di sekolah tidak belajar sejarah ini. Saya rindu buku ini ada lagi supaya saya bantu bagi supaya anak-anak kita lagi baca dan belajar sejarah yang benar". ---Brendy Weyai---

***
"... tindakan barbar diperlihatkan dalam buku ini. Insya allah, masanya akan tiba dan Papua berpisah". Walahualam.
---Kidier Malata----

***
"Guru yang merasakan sakitnya menjadi anak bangsa ini yang melahirkan dendam dan benci kepada Indonesia, sekalipun Papua juga memberi makan negara ini. Melalui buku ini penulis mengajar kita untuk menghasihi bangsa ini dan percaya bahwa ada jalan untuk kami merdeka. ---Mia Insyur---

***
Bapak Gembala membuktikan kepada kita bahwa Omong-omong Prabowo saat kampanye itu adalah gula-gula yang mengandung racun. Prabowo kalau baca buku ini dia akan malu, sebab Gembala begitu memghargai dia dan mencatat baik isi kampanyenya. 
---Petrus Konjol---

***
Buku yang apik dan berkarakter berjudul Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua seperti bom atom yang hancurkan Hirozima dan Nagazaki. Buku ini memiliki kekuatan data dan fakta yang tak terbantahkan. Ditulis oleh Gembala Sokrates Yoman seorang rohaniawan, bukan tokoh bermuka dua...bukan penjilat dan juga beliau pendukung Prabowo. Buku berbobot dan buat kita pusing keliling, putar balik sejarah palsu selama ini kita ikuti. Buku habis gelap terbit terang bagi orang Papua. Saya sangat rekomendasikan semua orang baca buku ini. 
    ----Amelia Nur Suryani----

***
"Cukup terkejut juga membaca buku Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua. Terkejut bukan sama sekali tidak tahu soal Papua tetapi informasi yang didapat dan hasil bacaan buku ini beda. Saya mulai berpikir benar ya apa yang di tulis atas dua hal.
(1) Proses bergabung pasti cacat. Karena cacat makanya orang Papua terus bersuara. (2) Bahwa karena pemerintah menekan sehingga perlawanan itu menimbulkan korban jiwa. Sebab itu menurut sy buku ini sangat bagus".
     ----'Abdulgani---

***
"Menggugah Hati, membaharui pikiran kita, bahwa masalah Papua tidak seindah dan semuda slogan pembangunan dan gaya hilir mudik presiden ke Papua. ...Buku ini adalah sedikit dari seuntai harapan kebebasan yang abadi...Buku ini menjadi pengapus yang menghapus ingatan kita akan sejarah Papua yang tidak benar". 
     ----Syahadu La Ode---

***
Satu hal yang pasti dari buku ini adalah Penulis memaparkan situasi dan kondisi yang terjadi selama Papua bergabung Indonesia. Miris sekali membaca data ini, manusia Papua seakan tidak bernilai. Yang bernilai itu SDAnya. Yang lebih lagi adalah oknum-oknum kelompok Oligarki bertindak atas nama negara,....Saya berharap buku ini terus di sebarkan...". ---Adult Damanik---

***
Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua...Ini harapan yang mengandung Paradoks. Sebab mana bisa seorang yang dulu tangannya berdarah dapat menyelesaikan masalah Papua? .... Saya salut adalah pak Yoman tidak melempar masalah Papua pada lingkup area Agama. Perjuangan ini adalah perjuangan semua manusia. 
--- Ruslan---

***
Buku Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Akar Konflik Papua adalah menarik dan membuka pikiran kita mengenai kondisi rill Papua. Ternyata, apa yg didengungkan oleh pemerintah membangun Papua dengan hati ternyata slogan kosong. Di publik membangun dengan hati tapi di lapangan membantai tanpa hati. Kita terjemurus dalam propoganda kosong yang manis tetapi orang Papua merana dalam darah dan air mata.---- Sadam---

***
Pada akhirnya semua akan tercerahkan dan mengerti apa yang terjadi sesungguhnya di Papua tanpa ada yang ditutupi dengan membaca buku Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua karya Gembala Yoman.
🙏🙏🙏---Slamet Nugroho---

***
Kita terlalu terpengaruh dengan bacaan dan narasi publik dari pihak Penguasa yang mewakili Rakyat. Akal sehat kita mengatakan apa yang beliau tulis ini benar. (1) Sejarah yang tidak benar tentang Papua; (2) Tindakan regresif dari Pejabat Sipil dan Militer; dan (3) Hak masyarakat asli Papua di abaikan.
..satu jalan adalah biarkan mereka lepas".---Natsir Ruslani---

****
Sejak kecil kita sudah diajar bahwa Papua itu adalah Negara Boneka buatan Belanda. Papua itu adalah Indonesia, tetapi buku ini membuat apa yang pernah diajar itu dipertanyakan ulang. 
Sering saya berpikir apa yang salah kok perhatian pemerintah untuk Papua luar biasa. Ternyata yang kita pikirkan itu tidak sebanding dengan luar biasanya penderritaan mereka. Saya sangat tergugah dengan buku ini, dan saya kembali kepada titik nol. ----Sukri S---

***
Dengan membaca buku ini pemahaman kita mengenai Papua semakin jelas dan berimbang, sehingga kita tidak mentah-mentah disuapi oleh informasi yang menyesatkan. Rupanya banyak orang Papua yang nyawa hilang karena mempertahankan milik mereka diberi label separatis sehingga atas nama separatis mereka diperlakukan dengan sadis melampaui batas kemanusiaan". 
----Mukhlis Suwono---

***
"Luar biasa buku ini. Sebuah buku yang memperlihatkan " kejahatan" negara lewat kaki tangannya. Entah Negara yang rancang atau mereka yang dilapangan yang rancang dan eksekusi. Tetapi yang pasti keterlibatan negara sangat nyata. Benar adalah melindungi kepentingan oligarki Jakarta. Kepentingan SDA di lindungi dan manusia jadi korban. Buku Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua ini sangat di rekomendasikan untuk semua orang tanpa kecuali". 
----Hasan Suparno----

***
 Perjuangan untuk sebuah kemerdekaan bukan saja dengan cara demonstran, angkat senjata. Tetapi perjuangan yang diam dan berdampak besar adalah menulis. Sebab dengan menulis orang akan paham mengapa sekelompok atau satu daerah atau satu bangsa mau merdeka. Senjata yang mematikan dari buku adalah dokumentasi fakta peristiwa yang dialami. Buku ini dibagi gratis dan merupakan jejaring perjuangan yang membuka pikiran dan hati kami. Bahwa dengan jujur kami mengaku selama ini kami menerima informasi yang keliru. Dengan membaca buku ini kami mendapat info yang benar terbawa dari semacam rasa luapan emosi hati dan pikiran yang tertuang. Orang Papua diperlakukan dengan tidak adil ditanah mereka sendiri". 
----Siti Jayanti---

****
Ketika masalah Papua muncul, publik di luar Papua selalu dicecoki dengan informasi sepihak dari penguasa dan kaum opurtinis, sehingga mereka merespon aspirasi mahasiswa Papua di luar Papua dengan cara yang salah. Aparat menjaga diri mereka agar tidak dituduh melanggar HAM maka mereka merekrut anak muda dan kelompok preman untuk melawan dan bertindak anarkis sehingga mahasiwa Papua kadang direndahkan. Buku ini, Prabowo dan Tantangan penyelesaian Konflik Papua semakin memperjelas bahwa apa yang dulu yakni kekerasan itu masih ada dan hanya dengan casing model baru. Oleh sebab itu perlawanan yang susah dibendung adalah membagi buku ini sebagai bagian dari Solidaritas Perjuangan Papua."
----Saleh Adullah..Makasar---

***
"Buku "Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua" menjadi pelita yang menyinari kegelapan yang selama ini ditutupi oleh penguasa".
---Henrykus Sihaloho---

***
Buku ini saya terima dan baca dan isinya semua penderitaan, air mata kita diramu dalamnya. Luar biasa. Salut. Suara emas, otak cerdas yang memikirkan nasib bangsanya".
---Jendi Smas---

***
"Buku ini membantu kami memahani konflik Papua yang sebenarnya selama ini. Kita selalu racuni informasi bahwa pihak asing yang bermain, masyarakat tidak puas. Ternyata terbalik, bahwa sejarah yang tidak benar dan perlakuan negara dalam hal ini Aparat TNI dan POLRI serta Pejabat daerah yang arogan dalam tindakan mereka. Kerasukan pejabat negara membuat nyawa orang Papua melayang, SDA membuat pejabat mata gelap dan terjadi konspirasi gelap untuk aparat keamanan menjaga segala proyek entah tambang atau izin hutan dengan dalil menjaga kedaulatan negara". ---Dahlan Sunaryo----

***
"Buku ini menampar wajah kita semua orang Indomesia, mengetuk hati kita apakah kita biarkan manusia Papua dibantai seakan tidak punya harga diri?
..jangan kita mencoba untuk mencari teori pembenaran yang tidak berdasar. Rasanya kalau Lepaskan Papua itu tidak masalah sebab kita masih bertetangga dan biarlah mereka menikmati apa yang pernah orang tua mereka nikmati. 
---Arifin Mahendra---

***
"....buku inilah yang mempengaruhi pikiran kita tentang masalah Papua....
---Yahya Latief...Jakarta----

***
....buku ini membawa kita menyelami lebih dalam hal yang hakiki soal Papua". 
    ------Mikzan Sulfikri----

***
....pilihan terbaik dan bermartabat adalah kembalikan kedaulatan Papua yang pernah ada kepada mereka supaya mereka mengatur hidup mereka sendiri". 
 ----Suwito---

****
....membaca buku ini kita memiliki pemahaman yang utuh soal Papua, kita digiring kepada pengetahuan yang falid dan benar soal Papua....---Pratiwi Nusantiani--

***
"Buku yang tidak boleh disia-siakan adalah buku ini. Buku ini harus dibaca oleh Menteri HAM dan Menteri Dalam Negeri terutama Presiden....
  ---Yuyuk Nugraha---

***
"Buku ini bukan tentang Prabowo, tetapi tentang Papua. Apa itu? (1) Sejarah Integrasi yang cacat, rusak dan dipaksakan. (2) Pengalaman hidup orang Papua sejak Integrasi sampai saat ini adalah kehidupan yang jauh dari kata ideal. Perlakuan masyarakat Indonesia yang Rasis dan Perlakuan aparat keamanan yang jahat. 
-----By Adul Karim----'

***
"Buku berjudul "Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua" tentang konflik Papua yang tidak hanya dipahami sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai krisis keadilan, kemanusiaan, dan dialog politik yang belum tuntas".------Taufik-----

****
....buku ini menikam semakin dalam dan tajam. Buktinya banyak orang lintas suku dan agama berdiri. Kami akan tetap solider tanpa suara dan tidak kelihatan untuk Papua".
----Ahmad Tabroni----

***
“ ....buku ada analisisnya sangat tajam mengenai aspek politik keamanan dan ekonomi. Buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang ingin memahami dinamika Papua....".-----Allan----

***
“Buku ini membuka banyak sudut pandang yang selama ini jarang dibahas secara mendalam soal realitas sosial-budaya, ekonomi dan politik yang berkelindan dengan pendekatan militer di tanah Papua...."-----Agus-----

***
"Buku yang ditulis Bapak Socratez Yoman ini memberikan ruang bagi pembaca di luar Papua untuk melihat gambaran besar persoalan yang sering disederhanakan media arus utama...."
 -----Dedi----
***
....buku ini benar-benar lengkap dengan dokumen dan fakta sejarah. Buku Edisi Revisi kali ini, lebih mematikan. Luar biasa". --Yance Luther Rawar---

***
"Secara keseluruhan, buku ini penting untuk menempatkan konflik Papua dalam perspektif kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab negara. ... masa depan Papua tidak dapat dibangun dengan senjata dan stigma, melainkan dengan keberanian moral, dialog, dan penghormatan terhadap martabat manusia". ----Ananda----

***
"Prabowo dihadapkan pada pilihan: melanjutkan paradigma lama yang menekankan pendekatan keamanan, atau melakukan terobosan dengan mengedepankan dialog, rekonsiliasi, dan keadilan substantif bagi orang asli Papua". ----Damar----

***
Buku ini refleksi kritis atas persoalan Papua yang selama ini dipersempit sekedar konteks keamanan. ... konflik Papua bukan persoalan separatisme semata, melainkan konflik struktural yang berakar pada sejarah integrasi, ketidakadilan ekonomi, pelanggaran HAM, diskriminasi rasial, dan kegagalan pembangunan yang berkeadilan. Buku ini mengingatkan bahwa stabilitas semu yang dibangun di atas ketakutan justru memperpanjang siklus kekerasan dan ketidakpercayaan masyarakat Papg

 Oleh Gemba. Dr Socrates Sofyan Yoman


"Kalau Aceh, Aceh itu minta merdeka karena ekonomi saja, kita ini minta merdeka karena betul-betul minta merdeka....".---Meki Fritz Nawipa---
Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman
Salah satu syarat nomor satu dan paling penting bagi setiap pejabat, yaitu Gubernur, Bupati dan Walikota ialah setia pada NKRI dan siap mati untuk NKRI selama menjabat 5 atau 10 tahun.
Meki Fritz Nawipa menyampaikan kepada Presiden dan Menteri Dalam Negeri dan seluruh Pejabat Tinggi Indonesia di Jakarta dengan pernyataan keras sebagai berikut:
"Kalau Aceh, Aceh itu minta merdeka karena ekonomi saja, kita ini minta merdeka karena betul-betul minta merdeka. Tapi karena kita sudah setia dengan NKRI ini jadi jangan sama sekali dikurangi, kita berharap kalau Pak Mendagri kasih kesempatan kita mau bicara langsung dengan Presiden".
Sungguh ironis! Isu Papua Barat Merdeka selalu menjadi komoditas politik yang paling laku yang ditawarkan oleh para pejabat Papua.
Minta uang harus bicara Papua Barat merdeka. Pemekaran provinsi-provinsi boneka harus bicara Papua Barat merdeka. Pemekaran kabupaten dan kota harus bicara Papua Barat merdeka. Untuk mendapat jabatan, pangkat atau golongan dan menjadi anggota DRP dan MRP harus bicara Papua Barat merdeka.
Ingat baik-baik. Papua Barat Merdeka tidak dapat digadaikan dengan 12 Triliun. Martabat kemanusiaan dan harga diri kami rakyat dan bangsa Papua Barat tidak bisa digadaikan dengan nilai uang, pemekaran provinsi-provinsi boneka, dan jabatan atau kedudukan.
Ideologi Papua Barat merdeka tidak bisa dihilangkan dengan nilai uang dan dropping ribuan pasukan tentara Indonesia dan bentuk badan-badan baru yang tumpang tindih yang menghabiskan uang rakyat.
Nilai 12 Triliun adalah nilai sangat kecil atau hanya remah-remah saja. Karena rakyat dan bangsa Papua Barat berada di Indonesia bukan tangan kosong. Rakyat dan bangsa Papua memberikan kontribusi nilai puluhan dan ratusan Triliun untuk Indonesia dan Amerika Serikat. Kami rakyat dan bangsa Papua membangun Indonesia dan membangun dengan uang hasil tambang kami dari Freeport McMoran, Tambang Gas BP di Bintuni, Minyak Tanah di Sorong.
Dana 12 miliar itu bagian dari kewajiban negara untuk membangun Papua sepanjang dan sejauh Indonesia mengkleim Papua Barat bagian dari wilayah Indonesia dan itu sama saja dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Tidak ada istimewa dan tidak ada yang luar biasa dan juga belum ada terobosan baru bagi Papua Barat dari Presiden Prabowo Subianto.
Dana 12 triliun adalah bagian dari Resolusi Pembangunan tetapi bukan dari Resolusi Konflik.
***
Presiden Prabowo Subianto perlu tahu bahwa "Papua Barat sudah menjadi LUKA MEMBUSUK dan BERNANAH di dalam tubuh bangsa Indonesia....".
Saya sebagai salah satu pendukung Presiden Prabowo Subianto, saya minta Presiden segera menunjuk Special Envoy untuk penyelesaian konflik Papua yang sudah menahun/kronis terlama di Asia Pasifik.
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno dengan tepat mengatakan:
"Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah LUKA MEMBUSUK di tubuh bangsa Indonesia." (hal.255).
"......kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam." (hal.257). (Sumber: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme).
Sedangkan Pastor Frans Lieshout, OFM, mengatakan:
"Orang Papua telah menjadi minoritas di negeri sendiri. Amat sangat menyedihkan. Papua tetaplah LUKA BERNANAH di Indonesia." (Sumber: Pastor Frans Lieshout,OFM: Markus Haluk: Guru dan Gembala Bagi Papua, 2020:601).
Lebih jauh Pastor Frans Lieshout mengungkapkan:
"..Orang tidak mau mendengar orang Papua, apa yang ada dihati mereka, aspirasi mereka. Aspirasi itu dipadamkan dengan senjata, kita harus mengutuk itu. Pendekatan Indonesia terhadap Papua harus kita kutuk. Orang Papua telah menjadi minoritas di negerinya sendiri. Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia." (Sumber bacaan: Pastor Frans Lieshout. Gembala Dan Guru Bagi Papua. hal.399, 601).
Sementara Ibu Dr. Anti Solaiman mengatakan:
"Papua itu luka dan isi lima buku Markus Haluk itu berisi luka semuanya yang belum ada solusinya. Luka itu bukan hanya dialami generasi tua, melainkan juga sudah dialami generasi anak dan bahkan generasi cucu" (Sumber: Membawa Keadilan dan Damai ke Tanah Papua: 2024, 11).
Pendeta Gomar Gultom, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada suatu diskusi tentang Papua pernah mengungkapkan:
"Persoalan Papua hari ini sudah seperti luka bernanah yang belum sembuh, belum kering nanahnya tapi muncul luka yang baru di atasnya" (Sumber: Pdt. Ronald Rischard Tapilatu: Membawa Keadilan dan Damai ke Tanah Papua: 2024, xvi).
LUKA MEMBUSUK dan BERNANAH sudah dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tertuang dalam buku Papua Road Map: Negociating the Past, Improving the Present and Securing the Future (2008), yaitu:
1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;
(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian;
(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;
(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.
Empat akar konflik ini tidak dikaburkan dengan pembentukan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua tahun 2025 yang dipimpin (1) Velix Vernando Wanggai, (2) John Wempi Wetipo, (3) Ignatius Yogo Triyono, (4)Paulus Waterpauw, (5) Ribka Haluk (6) Ali Hamdan Bogra, (7)Gracia Josaphat Jobel Mambrasar, (8)Yani, (9) John Gluba Gebze, (10) Johnson Estrella Sihasale atau Ari Sihasale.
Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPPOKP) itu sama saja dengan dua pemimpin terdahulu,yaitu:
(1l Di era Haji Susilo Bambang Yudhoyono dibentuklah Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) dengan PP 66 tahun 2011 yang dikepalai oleh Bambang Darmono dan Gad Fonataba.
(2) Di era Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) nomor 121 tahun 2022 tentang Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua. Peraturan tersebut ditetapkan di Jakarta, 21 Oktober 2022.
Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk tidak berada dalam cara dan metode lama, diharapkan ada pendekatan baru ( new approach), alternatif baru, persepsi baru, inovasi baru, kreativitas yang baru, dan narasi-narasi modern untuk mengakhiri kekerasan Negara dan kejahatan kemanusiaan di Papua Barat.
Akhir kata, solusi terbaik, bermartabat, adil, manusiawi dan berabab ialah Presideb Prabowo Subianto segera menunjuk Special Envoy untuk penyelesaian empat akar konflik Papua Barat yang sudah menahun/kronis yang terlama di Asia Pasifik yang sudah dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Selamat Membaca. Tuhan memberkati.
Ita Wakhu Purom, 18 Desember 2025
Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota: Konferensi Gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).
_________________
Kontak: 08124888458
"Selama puluhan tahun terakhir ini orang Papua sudah belajar banyak dari Indonesia tetapi sebaliknya Indonesia dan banyak pendatang sepertinya enggan untuk mau belajar sesuatu dari Papua. Tidak ada banyak pendatang yang sungguh berusaha untuk mengenal tanah Papua, manusia, bahasa, dan budayanya....." (Pastor Frans Lieshout). 

Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

".....orang-orang yang dianggap primitif memberikan pelajaran tentang sopan santun kepada orang asing itu. Siapakah yang sebenarnya primitif" (Pastor Frans Lieshout). 

Indonesia bangsa Melayu tidak punya tanah di TANAH Papua Barat. Mereka bangsa perampok yang datang menduduki, menjajah dan merampok TANAH kami. Mereka bawa undang-undang dan hukum mereka buatan sendiri. Ideologi mereka. Gaya hidup mereka.

Mereka paksa kami untuk terima undang-undang dan ideologi mereka. Mereka paksa kami terima sejarah mereka. Mereka paksa kami untuk terima lagu mereka. Mereka paksa kami untuk terima bendera mereka. Mereka paksa kami terima ideologi mereka,yaitu, Pancasila.

Indonesia melayu mengangkat diri sendiri sebagai pemimpin dan paksa kami hormati dan tunduk kepada mereka sebagai pemimpin kami.  

Dengan tepat, Cypri Jehan Paju Dale dalam kata pengantar buku Pdt. Dr. Benny Giay yang berjudul: "Zakheus Pakage Dan Komunitasnya", dengan tepat ditulis:

"Para ogai menganggap orang Papua primitif, terkebelakang, dan hidup dalam kegelapan. Mereka juga mengangkat diri mereka sendiri sebagai penyelamat yang dibutuhkan untuk membuat orang Papua menjadi beradab. Pandangan semacam itu telah menjadi asumsi dari misi pemberadaban para misionaris Barat, penjajahan orang Eropa, ekspansi imperialisme Amerika dan pembangunanisme Indonesia dewasa ini" (Giay, 2022:3).

"Indonesia adalah bangsa kolonial seperti firaun dan Goliat yang berwatak rasis, fasis, kejam, barbar, biadab dan berkarakter perampok, pencuri, penipu, pembohong, pembunuh dan penjarah yang datang menduduki dan menjajah bangsa Papua Barat sejak 19 Desember 1961 dan membangun pemerintahan Iblis di Tanah Papua Barat. Bagi mereka yang mempunyai kesadaran, hati nurani dan mengerti dan pasti membenarkan dan setuju dengan pernyataan ini" (28 Juni 2024).

Kedaulatan, kemerdekaan, otonomi dan kemandirian rakyat dan bangsa Papua Barat tercermin dan terbukti lewat kutipan sebagai berikut: 

DR. Leo Laba Ladjar, OFM, Uskup Jayapura, dalam kata pengantar buku:
"Sejarah Gereja Katolik di Lembah Balim-Papua: Kebudayaan Balim Tanah Subur Bagi Benih Injil" (2009) diakui sebagai berikut: 

"....Kesan orang ekspedisi itu ialah bahwa penduduk asli itu sudah punya peradaban yang tinggi. Orang-orang penduduk Lembah itu berpandangan luas, semangat kerjanya tinggi, berbakat besar untuk pertanian" (2009:xii). 

Pastor Frans Lieshout, OFM, kebangsaan Belanda ini mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Penduduk Orang Asli Papua sebagai berikut:

"Saya masih mengingat masyarakat Balim seperti kami alami waktu pertama datang di daerah ini. Kami diterima dengan baik dan ramah, tetapi mereka tidak memerlukan sesuatu dari kami, karena mereka sudah memiliki segala sesuatu yang mereka butuhkan itu. Mereka nampaknya sehat dan bahagia, ....Kami menjadi kagum waktu melihat bagaimana masyarakat Balim hidup dalam harmoni...dan semangat kebersamaan dan persatuan...saling bersalaman dalam acara suka dan duka..." ( Sumber: Kebudayaan Suku Hubula Lembah Balim-Papua, 2019, hal. 85-86). 

Lebih lanjut Pastor menggambarkan kehidupan Pendauduk Orang Asli Papua dengan tepat, sebagai berikut: 

"Waktu Mr. Lorentz diberikan kehormatan untuk membagikan daging babi itu kepada para anggota rombongannya, ia sendiri mencicipi sedikit terlebihi dahulu dari daging itu; rasanya enak sekali! Tetapi tuan rumah menegur dia, ia harus membagi dulu kepada yang lain dan sesudah itu baru ia boleh makan bagian dia sendiri. (Situasi ini lucu sekali, karena orang-orang yang dianggap primitif memberikan pelajaran tentang sopan santun kepada orang asing itu. Siapakah yang sebenarnya primitif" (2009:4). 

"Anggota ekspedisi sangat menggangumi masyarakat yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tinggi di bidang pertanian. Kebun-kebun dan parit-parit di dalamnya kelihatannya seperti di daerah pertanian di Eropa. Selain itu masyarakat Balim juga sangat cerdas, buktinya jembatan gantung di atas sunggai Balim yang baik dan kuat" (2009:14). 

"Kami melihat sebuah jembatan gantung buatan tangan manusia. Rombongan orang Dayak meragukan kekuatan jembatan itu dan tidak berani memakainya seperti nereka biasanya kurang menghargai orang Papua. Kami menyebrangi kali itu lewat jembatan yang ternyata baik dan kuat. Kami mengagumi karya teknik mereka itu dan kebun-kebun tebu, ubi dan keladi yang sungguh terawat dengan baik. Mereka bukan manusia 'primitif'" Kami tidak membayangkan akan bertemu manusia seperti itu....Masyarakat yang sederhana dan polos ini hidup bersama dalam suasana damai" (2009:8). 

"Hampir seluruh tanah mereka adalah kebun yang dipagari dengan baik. Jalan-jalan setapak dari kampung satu ke kampung yang lain terkesan terawat rapih dan rumah-rumah mereka berkelompok dengan halaman yang bersih dan teratur" (2009:9). 

"....orang-orang yang ramah, bersahabat dan sopan. Kagum, karena orang-orang Dani ( baca:Orang-orang Asli Papua) itu, meskipun masih hidup di zaman batu namun mempunyai peradaban dan kebudayaan tinggi, mempunyai ketrampilan untuk bertani dan menggarap tanah secara intensif, memiliki teknik tinggi untuk membangun sistem irigasi, jembatan gantung dan pagar-pagar dengan tekun dan teliti, membangun dan memelihara rumah-rumah mereka dengan rapi dan bersih sersta sssuai dengan iklim dan alam hidup mereka." (2009:17).. 

"Maka dapat dibayangkan situasinya, di mana orang-orang Balim sejak zaman nenek moyangnya mengatur hidupnya sendiri" (2009:42). 

"Orang Balim hidup bersama dalam semangat otonom dan bebas. Kekuatan orang Balim terletak dalam kebersamaan. Orang Balim sejati sebenarnya tidak mengemis dan bangga atas dirinya hidup secara mandiri sejak leluhur." (2009:363). 

"Saya sendiri pun belajar dari manusia Balim (Papua) yang begitu manusiawi. ...Mereka (OAP) pasti tidak menyadari bahwa kami telah banyak belajar dari mereka daripada sebaliknya." (Pastor Frans Lieshout,OFM-2009:xviii; hal.9). 

Ada hal yang kontras dari perilaku orang-orang Indonesia yang berwatak rasis datang ke Tanah bangsa Papua digambarkan dengan baik oleh Pastor Frans Lieshout, sebagai berikut: 

" Selama puluhan tahun terakhir ini orang Papua sudah belajar banyak dari Indonesia tetapi sebaliknya Indonesia dan banyak pendatang sepertinya enggan untuk mau belajar sesuatu dari Papua. Tidak ada banyak pendatang yang sungguh berusaha untuk mengenal tanah Papua, manusia, bahasa, dan budayanya dan biasanya seseorang tidak dapat mencintai apa yang ia tidak kenal. Dalam program-program pembangunan sering kurang diperhatikan dan dihargai kearifan-kearifan lokal seakan-akan Papua harus menjadi kopi dari daerah-daerah lain di Indonesia tanpa suatu warna lokal Papua. Kiranya tidak cukuplah untuk berulang-ulang kali memproklamasikan Tanah Papua sebagai Tanah Damai" (2009:385-386). 

Pengakuan Pastor Frans Lieshout mempertegas atau mendukung kebenaran kemerdekaan dan kedaulatan Penduduk Orang Asli Papua. Saya ambil salah satu contoh dari suka saya sendiri, orang Lani. 

Selengkapnya saya mau sampaikan tentang "NILAI-NILAI LUHUR & ILAHl DALAM PERADABAN HIDUP SUKU LANI" sebagai berikut: 

Suku Lani yang menggunakan bahasa Lani adalah suku terbesar di Papua, yang hidup, tinggal/mendiami dan bermukim berabad-abad di Pegunungan West Papua di bagian Barat dari Lembah Balim. Wilayah yang didiami pemilik dan pengguna bahasa Lani meliputi: Piramit, Makki, Tiom, Kelila, Bokondini, Karubaga, Mamit, Kanggime, Ilu, Mulia, Nduga, Kuyawagi, Sinak dan Ilaga. 

Kata “Lani” akan memiliki arti yang jelas, lebih dalam dan luas, jika ditambah dengan kata "Ap" berarti menjadi Ap Lani yang mengandung makna, yaitu: "Orang-orang Otonom, mandiri, independen dan berdaulat penuh." 

Dalam buku: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” (Yoman, 2010: 92) penulis menjelaskan sebagai berikut: 

Kata Ap Lani artinya: ” orang-orang independen, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki kehidupan, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai hutan, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur, dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya.” 

Seperti Pastor Frans Lieshout, OFM mengakui: 

"Saya sendiripun belajar banyak dari manusia Balim yang begitu manusiawi. Saya masih mengingat masyarakat Balim seperti kami alami waktu pertama datang di daerah ini. Kami diterima dengan baik dan ramah, tetapi mereka tidak memerlukan sesuatu dari kami, karena mereka sudah memiliki segala sesuatu yang mereka butuhkan itu. Mereka nampaknya sehat dan bahagia, ...Kami menjadi kagum waktu melihat bagaimana masyarakat Balim hidup dalam harmoni...dan semangat kebersamaan dan persatuan...saling bersalaman dalam acara suka dan duka..." ( Sumber: Kebudayaan Suku Hubula Lembah Balim-Papua, 2019, hal. 85-86). 

Sumber ini dikutip pandangan seorang misionaris yang hidup lama dengan orang gunung, khusus orang Balim. Tetapi apa yang disampaikam Pastor Frans sudah merupakan representasi nilai luhur dan ilahi dalam peradaban hidup orang-orang Lani juga. 

1. Orang Lani dan Perang 

Dalam perang orang Lani ada norma-norma yang harus ditaati oleh kedua kelompok yang bertikai atau berperang. 

Dilarang membunuh anak-anak. Dilarang membunuh perempuan. Dilarang membunuh orang tua dan juga orang lumpuh. Dilarang membunuh pemimpin. Dilarang mengambil mengambil barang-barang di medan perang sebagai barang jarahan. Dilarang memperkosa perempuan di medan perang. 

Membunuh musuh harus dengan alasan yang jelas. Jangan membunuh orang tanpa dasar dan alasan yang jelas kuat. Dalam.membunuh musuh jangan hancurkan muka, kepala, jangan potong leher, potong kaki dan tangan manusia yang dibunuh. Jangan keluarkan isi perut orang yang dibunuh. Jangan membunuh orang dari bagian belakang. Manusia dibunuh dibagian dada/lambung. 

Setelah manusia dibunuh mayatnya dilarang keras buang dijurang. Dilarang disembunyikan ditempat tersembunyi. Orang yang dibunuh dilarang dibuat telanjang. Dilarang meletakkan mayatnya terlentang. Mayat orang yang dibunuh diatur posisi tidur menyamping kanan atau kiri, tetapi dilarang biarkan terlentang muka ke arah langit atau muka ke arah tanah. 

Setelah dibunuh pihak pembunuh berkwajiban sampaikan informasi kepada keluarga korban. Supaya keluarga korban datang mengambil jenazah dan berkabung dan mengabukannya (membakarnya). 

Akibat dari melanggar norma-norma perang tadi, para atau pihak pelaku mengalami musibah kutuk dan murka turun-temurun. Keturunan mereka tidak pernah selamat karena darah orang yang dibunuh itu menentut balasan. 

Biasanya, musibah dan malapetaka itu berhenti ketika para pelaku kejahatan mengaku bersalah, minta maaf dan minta pengampunan dari keluarga korban. 

Dilarang membunuh dan wajib lindungi pemimpin kedua pihak yang sedang berperang dan bermusuhan karena pemimpin adalah simbol pelindung dan perdamaian. Kalau pemimpin dibunuh berarti kehancuran dan malapetaka bagi rakyat kedua belah pihak yang sedang berperang. 

Keyakinan, nilai luhur dan ilahi orang Lani bahwa pemimpin adalah NDUMMA sebagai pemegang kebenaran, keadilan, kasih, kejujuran, pengharapan, pembawa angin sejuk, kenyamanan, ketenangan dan harmoni hidup. Karena itu, pemimpin sebagai Ndumma harus dilindungi, dijaga dan dihormati. Kalau orang menggamggu Ndumma berarti mengganggu seluruh penduduk orang Lani. 

Kedua belah pihak juga berdamai dengan cara yang unik dan bersahabat, walaupun bermusuhan. Karena pada dasarnya orang-orang Papua pada umumnya dan orang Lani lebih khusus, orang-orang paling jujur, tulus, tidak berpura-pura dan munafik. Mereka orang-orang mencintai KEDAMAIAN dan PERSAUDARAAN. Mereka berdamai dengan makan bersama dengan menyembelih beberapa ekor babi. Mereka saling bertukaran ternak babi yang mereka miliki. Adapun daun pisang yang diatasnya diletakkan daun ubi adalah simbol perdamaian antar orang Lani yang sedang berperang. Orang-orang Lani adalah bangsa Melanesia yang sangat unik ada di planet ini. Aku bangga karena aku orang Lani, aku orang gunung, aku orang Papua, aku orang Melanesia. Aku bukan orang Indonesia dan saya bukan bangsa Indonesia. 

2. Orang Lani dan Kreatifitasnya 

Contoh lain ialah orang Lani membangun dan membuat pagar kebun dan honai/rumah dengan bahan-bahan bangunan yang berkualitas baik. Kayu dan tali biasanya bahan-bahan khusus yang kuat supaya pagar itu berdiri kokoh untuk melindungi rumah dan juga kebun. 

Orang Lani juga berkebun secara teratur di tanah yang baik dan subur untuk menanam ubi-ubian dan sayur-sayuran. 

Dr. George Junus Aditjondro mengakui: 

“…para petani di Lembah Baliem misalnya, memiliki budaya pertanian ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam” (Cahaya Bintang Kejora, 2000, hal. 50). 

Suku Lani juga dengan kreatif menciptakan api. Suku Lani dengan cerdas dan inovatif membuat jembatan gantung permanen. Para wanita Lani juga dengan keahlian dan kepandaian membuat noken untuk membesarkan anak-anak dan juga mengisi bahan makanan dan kebutuhan lain. 

Yang jelas dan pasti, suku Lani ialah bangsa yang bedaulat penuh dari turun-temurun dan tidak pernah diduduki dan diatur oleh suku lain. Tidak pernah dipimpin dan diperintah oleh orang asing Tidak ada orang asing yang mengajarkan untuk melakukan dan mengerjakan yang sudah disebutkan tadi. Suku Lani adalah bangsa mempunyai kehidupan dan mempunyai segala-galanya sebagai bangsa merdeka dan bedaulat sejak leluhur. 

Saya dengan jujur sampaikan bahwa tulisan ini tidak sempurna. Tapi, lebih baik tulis yang tidak sempurna daripada tidak berbuat apa-apa untuk melindungi bangsaku yang dianggap tidak bermartabat dan tidak berbudaya oleh para kolonial Indonesia yang RASIS yang menduduki, menjajah dan menindas bangsaku atas nama NKRI. 

Sudah saatnya nilai-nilai luhur dan ilahi yang dimatikan itu dihidupkan kembali. Dengan tepat Pastor Frans Leishout mengatakan: " Pagar sudah rusak. Honai sudah hancur. Noken sudah rabik. Perahu sudah bocor." 

Artinya, semua nilai-nilai luhur budaya warisan leluhur yang merupakan bendungan hidup orang Asli Melanesia di Papua sudah dihancurkan secara sistematis oleh penguasa kolonial Indonesia sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang.

Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati. 

Ita Wakhu Purom, 29 Juni 2024

Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
4. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC). 
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

++++++++++

Nomor kontak penulis: 08124888458//
081288887882