Search This Blog

TRENDING NOW

 

---buku ini kalau dibaca semua orang maka secara otomatis gugur semua apa yang kita terima sejak kecil tentang Papua.....".----Maldova Ikhsan Abdulah.----

***
....Buku ini menampar wajah kita semua orang Indomesia......,". -----Arifin Mahendra----

***
Akal sehat kita mengatakan apa yang beliau tulis ini benar. ....satu jalan adalah biarkan mereka lepas".---Natsir Ruslani---

***
"Sesungguhnya siapapun yang punya nurani membaca buku ini akan merasa malu dan terpukul. Solusi terbaik adalah Rekonsikiasi dan kembalikan kedaulatan Papua seperti 1 Des 1961". ------Faiz Abdala-----

***
"Saya beruntung bisa mendapat buku ini. Wawasan saya terbuka dan seluruh kerangka pikir saya runtuh seketika. Selama ini otak menerima asupan racun yang saya pikir madu. Setelah membaca buku ini saya keluarkan racun dalam otak saya. ---Akbar M.---

***....buku ini membuka borok negara. ...kita sebagai warga negara Indonesia non Papua menjadi malu.... --Dharma Kusmaji---

***
....saya sarankan saja kalau ada stok. Buku ini dibagi luas untuk kita orang Indonesia agar tahu soal Papua sebenarnya dan terlebih kepada kaum muda yang bebas. ---Nurdin Adullah---

***
... kita akan berdiri dari sisi kemanusiaan. Untuk apa kita bersama satu bangsa tetapi mereka tidak diperhitungkan? Yang diperhitungkan hanya kekayaan dan SDA mereka".
 ----Cahyanti Kusumawati---

"Buku ini fakta kekerasan militer dan pejabat sipil terhadap rakyat asli Papua. ....kerakusan terhadap sumber daya alam. ... buku ini membuka borok negara. ...kita sebagai warga negara Indonesia non Papua menjadi malu. Kalau seperti ini dan daripada mereka punah lebih baik kembalikan kemerdekaan mereka 1 Desember 1961. Saya bersyukur karena bersama teman-teman mendapat buku gratis. Metode membagi buku ini efektif dan hal paling utama adalah kita bisa tahu hal yang sebenarnya tentang Papua.
---Dharma Kusmaji---

***
 "Membaca buku ini sambil meneropong tindakan kombatan Papua Merdeka adalah sebuah fakta bahwa mereka berjuang untuk bangsanya. Tulisan ini adalah lembaran darah dan air mata orang Papua menjadi sebuah daya yang mendorong kita untuk berdiri bersama orang Papua". ----Yanto Sadiq Koswara---

***
"Sungguh mengerikan dan mencengangkan kita atas berbagai hal yang terjadi di Papua selama ini. ... buku yang memaparkan prilaku aparat kita yang bertindak sewenang terhadap orang Papua. Siapa saja yang membaca buku ini pasti tercerahkan".
 ---Zadrak Matheus---

 ***
"Sebuah rekam jejak yang merekam peristiwa yang tidak manusiawi yang diperlihahtkan dalam buku ini. Kita meneropong kembali lorong waktu lalu, dan realita masa kini ternyata perlakuan terhadap manusia Papua itu adalah hal yang menyayat hati. Penulis buku ini menguggah hati dan pikiran kita sebagai bangsa untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi di Papua".
--- Mariana Koeswardhani---

***
"...Kita mempertahankan kecintaan untuk Negara, tetapi waktu yg sama kita korbankan nyawa sebagian anak bangsa di Papua. Pertanyaannya adalah kita pertahankan Papua itu demi bangsa Indonesia atau demi nafsu liar para petinggi negara dengan kaum oligarki mereka. Rasanya banyak nyawa orang Papua melayang sia-sia oleh karena kerakusan oknum Militer maupun pejabat sipil aparatur negara. Hak-hak orang Papua juga diabaikan. Maka buku ini adalah " jembatan" informasi yang berimbang dan aktual serta faktual yang perlu kita ketahui".---Basri La Ode---

****
Buku karya penting yang menjelaskan akar persoalan Papua secara jernih, lugas, dan berbasis pengalaman panjang seorang gembala yang selama puluhan tahun menyaksikan langsung luka sosial, kekerasan, dan dinamika politik di Tanah Papua. Buku ini sangat membantu karena mampu mengurai persoalan dalam bahasa yang dapat dipahami pembaca umum, namun tetap tajam dan penuh data pengalaman. 
....bahwa Papua bukan sekadar “wilayah” tetapi rumah bagi manusia yang memiliki hak hidup, hak menentukan masa depan, dan hak menikmati pembangunan yang adil."
 ----Mas Rudi-----

***
Kita telah banyak diracuni oleh berbagai informasi yang menyesatkan soal Papua. ...kita baca dan lihat kekerasan di Papua di balut dengan isu kepentingan negara. Buku ini membuka banyak tabir yang tidak kita ketahui. 
---Rahman Subair---

***
"Seperti pisau bedah ditangan dokter, membedah pasien, terasa sakit tetapi itu membawa kesembuhan. Demikian buku ini, seluruh untaian kata dan kalimat menyakitkan sebab menyajikan berbagai peristiwa yang menyakitkan tetapi itu demi kesembuhan Papua dan Indonesia". --- Agus Firmansyah ----

***
"Buku ini tidak enak di nikmati sebab rasanya seperti duri dalam tubuh. Duri yang Negara ini ciptakan sendiri. Sebab itu ibarat obat yang pahit tetapi membawa kesembuhan. Kita membaca buku ini sebagai orang Indonesia serasa kita memikul beban yang sebaian besar rakyat Indonesia tidak tahu tetapi dipaksa utk memikulnya."---Nelson Sambuaga---

***
'Ini buku adalah semacam CCTV yang mendokumentasikan semua peristiwa masa lampu. Negara tidak bisa berkilah dan cuci tangan sebab ketika membaca buku ini maka seperti kita meminta CCTV dibuka untuk menguji kebenaran siapa pelakunya dan apakah peristiwa itu benar? ...Saudara-saudaraku kalian berhak untuk berdiri dan berdaulat sebagai bangsa".--Priskila Permatashari--

***
"Buku yang bernilai melebih emas dan juga jembatan emas menyelesaikan masalah Papua".---Kostantinus Pandawa---

***
"Orang Papua tidak harus berjuang dengan senjata dan demonstran,... Tulisan adalah senjata yang sangat mematikan tanpa menghilangkan nyawa manusia. Buku ini adalah senjata yang melawan dengan penuh martabat dan kasih".---Basri Luhulima---

***
Buku yang tajam serta kritis terhadap masalah Papua. Buku ini akan semakin menarik kalau terus menerus dibagi kepada semua orang." ---Fathur Al Muthalib---

****
 "Buku seperti ini perlu disebarluaskan diantara orang-orang Papua terlebih generasi muda yang iwari..biar mereka paham sejarah Papua".---Pniel Yaman---

***
Kita orang Papua punya luka ini sudah terlalu dalam dan sakit sebab itu, buku ini kalau bisa bagi-bagi biar semua baca. Kita punya anak-anak usia sekolah ini otak sudah lama di cuci dengan sejarah palsu".---Selvina Ambuni---

***
"Buku Prabowo dan Tantangan Penyelesain Konflik Papua selesai saya baca. Bahkan baca berulang-ulang. Isi buku ini mempermalukan kita sebagai orang Indonesia..." ---Yahya Muslimin---

***
Siapa yang ingin tahu fakta Papua, maka silakan membaca buku ini. Isi buku ini jujur fakta yang terjadi di Papua. 
Isi buku hal-hal aktual Papua yang didalamnya tindakan yang dilakukan oknum aparat sipil maupun militer terhadap orang Papua dan SDAnya.
Penulis sebagai dokter yang mendiagnosa penyakit, bukan hanya mengobati tetapi mencari sumber penyakitnya, setelah itu melakukan langkah-langkah agar luka itu mati. Seperti itulah buku ini ini dibaca... Saya mendukung langkah dan perjuangan ini. 
---Sumanto al Bengawan----

***
'Kandungan dalam buku ini berisi fakta dan kebenaran yang tidak dibantahkan. Penulis telah menguraikan buku ini dengan jelas. Yang bisa memutarbalikan kebenaran adalah iblis tetapi akhirnya kebenaran itu menang".---Rahmat Simbolon---

***
Kebenaran tetap kebenaran. Penulis menggali dan membangkitkan kebenaran yang sengaja di kuburkan itu.
Kebenaran ini menyakitkan bagi mereka yang terbiasa menyembunyikan fakta dan perbuatan, tetapi menimbulkan sukacita dan kebahagian bagi mereka yang membenci ketidakbenaran. 
     ------ I made Karya----

***
"Bila diberi pilihan, percayakah buku yang ditulis oleh Pemerintah kita soal Papua yang selama ini diajarkan bila di bandingkan dengan tulisan Dr Socratez Yoman? Saya lebih memilih percaya buku yang Yoman tulis. Sebab yang di tulis oleh penguasa adalah menutup boroknya, sedangkan yang ditulis oleh Yoman adalah membuka borok untuk memperbaiki kondisi yang ditutup tersebut. Jadi, buku ini kalau dibaca semua orang maka secara otomatis gugur semua apa yg kita terima sejak kecil. Sekaligus memperlihatkan wajah monster oknum Pejabat Sipil dan Militer di Papua. 
----Maldova Ikhsan Abdulah.----

***
....saya membaca arah tulisan ini dengan memulai bab 1, 2 dan 3 awal untuk Prabowo tetapi selanjutnya adalah buku ini diperlihatkan semua kejahatan negara di Papua yang hadir lewat kaki tangannya baik Pejabat Sipil dan MIliter. ...kekayaan alam membuat para kaum Oligarki tidak melihat manusianya tetapi SDAnya". 
        ---Lius Sparta---

***
Sejarah bangsa Papua terkikis habis dan diganti oleh sejarah palsu dari Indonesia. Buku ini kami kasih anak- anak kami baca karena kami tahu di sekolah tidak belajar sejarah ini. Saya rindu buku ini ada lagi supaya saya bantu bagi supaya anak-anak kita lagi baca dan belajar sejarah yang benar". ---Brendy Weyai---

***
"... tindakan barbar diperlihatkan dalam buku ini. Insya allah, masanya akan tiba dan Papua berpisah". Walahualam.
---Kidier Malata----

***
"Guru yang merasakan sakitnya menjadi anak bangsa ini yang melahirkan dendam dan benci kepada Indonesia, sekalipun Papua juga memberi makan negara ini. Melalui buku ini penulis mengajar kita untuk menghasihi bangsa ini dan percaya bahwa ada jalan untuk kami merdeka. ---Mia Insyur---

***
Bapak Gembala membuktikan kepada kita bahwa Omong-omong Prabowo saat kampanye itu adalah gula-gula yang mengandung racun. Prabowo kalau baca buku ini dia akan malu, sebab Gembala begitu memghargai dia dan mencatat baik isi kampanyenya. 
---Petrus Konjol---

***
Buku yang apik dan berkarakter berjudul Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua seperti bom atom yang hancurkan Hirozima dan Nagazaki. Buku ini memiliki kekuatan data dan fakta yang tak terbantahkan. Ditulis oleh Gembala Sokrates Yoman seorang rohaniawan, bukan tokoh bermuka dua...bukan penjilat dan juga beliau pendukung Prabowo. Buku berbobot dan buat kita pusing keliling, putar balik sejarah palsu selama ini kita ikuti. Buku habis gelap terbit terang bagi orang Papua. Saya sangat rekomendasikan semua orang baca buku ini. 
    ----Amelia Nur Suryani----

***
"Cukup terkejut juga membaca buku Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua. Terkejut bukan sama sekali tidak tahu soal Papua tetapi informasi yang didapat dan hasil bacaan buku ini beda. Saya mulai berpikir benar ya apa yang di tulis atas dua hal.
(1) Proses bergabung pasti cacat. Karena cacat makanya orang Papua terus bersuara. (2) Bahwa karena pemerintah menekan sehingga perlawanan itu menimbulkan korban jiwa. Sebab itu menurut sy buku ini sangat bagus".
     ----'Abdulgani---

***
"Menggugah Hati, membaharui pikiran kita, bahwa masalah Papua tidak seindah dan semuda slogan pembangunan dan gaya hilir mudik presiden ke Papua. ...Buku ini adalah sedikit dari seuntai harapan kebebasan yang abadi...Buku ini menjadi pengapus yang menghapus ingatan kita akan sejarah Papua yang tidak benar". 
     ----Syahadu La Ode---

***
Satu hal yang pasti dari buku ini adalah Penulis memaparkan situasi dan kondisi yang terjadi selama Papua bergabung Indonesia. Miris sekali membaca data ini, manusia Papua seakan tidak bernilai. Yang bernilai itu SDAnya. Yang lebih lagi adalah oknum-oknum kelompok Oligarki bertindak atas nama negara,....Saya berharap buku ini terus di sebarkan...". ---Adult Damanik---

***
Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua...Ini harapan yang mengandung Paradoks. Sebab mana bisa seorang yang dulu tangannya berdarah dapat menyelesaikan masalah Papua? .... Saya salut adalah pak Yoman tidak melempar masalah Papua pada lingkup area Agama. Perjuangan ini adalah perjuangan semua manusia. 
--- Ruslan---

***
Buku Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Akar Konflik Papua adalah menarik dan membuka pikiran kita mengenai kondisi rill Papua. Ternyata, apa yg didengungkan oleh pemerintah membangun Papua dengan hati ternyata slogan kosong. Di publik membangun dengan hati tapi di lapangan membantai tanpa hati. Kita terjemurus dalam propoganda kosong yang manis tetapi orang Papua merana dalam darah dan air mata.---- Sadam---

***
Pada akhirnya semua akan tercerahkan dan mengerti apa yang terjadi sesungguhnya di Papua tanpa ada yang ditutupi dengan membaca buku Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua karya Gembala Yoman.
🙏🙏🙏---Slamet Nugroho---

***
Kita terlalu terpengaruh dengan bacaan dan narasi publik dari pihak Penguasa yang mewakili Rakyat. Akal sehat kita mengatakan apa yang beliau tulis ini benar. (1) Sejarah yang tidak benar tentang Papua; (2) Tindakan regresif dari Pejabat Sipil dan Militer; dan (3) Hak masyarakat asli Papua di abaikan.
..satu jalan adalah biarkan mereka lepas".---Natsir Ruslani---

****
Sejak kecil kita sudah diajar bahwa Papua itu adalah Negara Boneka buatan Belanda. Papua itu adalah Indonesia, tetapi buku ini membuat apa yang pernah diajar itu dipertanyakan ulang. 
Sering saya berpikir apa yang salah kok perhatian pemerintah untuk Papua luar biasa. Ternyata yang kita pikirkan itu tidak sebanding dengan luar biasanya penderritaan mereka. Saya sangat tergugah dengan buku ini, dan saya kembali kepada titik nol. ----Sukri S---

***
Dengan membaca buku ini pemahaman kita mengenai Papua semakin jelas dan berimbang, sehingga kita tidak mentah-mentah disuapi oleh informasi yang menyesatkan. Rupanya banyak orang Papua yang nyawa hilang karena mempertahankan milik mereka diberi label separatis sehingga atas nama separatis mereka diperlakukan dengan sadis melampaui batas kemanusiaan". 
----Mukhlis Suwono---

***
"Luar biasa buku ini. Sebuah buku yang memperlihatkan " kejahatan" negara lewat kaki tangannya. Entah Negara yang rancang atau mereka yang dilapangan yang rancang dan eksekusi. Tetapi yang pasti keterlibatan negara sangat nyata. Benar adalah melindungi kepentingan oligarki Jakarta. Kepentingan SDA di lindungi dan manusia jadi korban. Buku Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua ini sangat di rekomendasikan untuk semua orang tanpa kecuali". 
----Hasan Suparno----

***
 Perjuangan untuk sebuah kemerdekaan bukan saja dengan cara demonstran, angkat senjata. Tetapi perjuangan yang diam dan berdampak besar adalah menulis. Sebab dengan menulis orang akan paham mengapa sekelompok atau satu daerah atau satu bangsa mau merdeka. Senjata yang mematikan dari buku adalah dokumentasi fakta peristiwa yang dialami. Buku ini dibagi gratis dan merupakan jejaring perjuangan yang membuka pikiran dan hati kami. Bahwa dengan jujur kami mengaku selama ini kami menerima informasi yang keliru. Dengan membaca buku ini kami mendapat info yang benar terbawa dari semacam rasa luapan emosi hati dan pikiran yang tertuang. Orang Papua diperlakukan dengan tidak adil ditanah mereka sendiri". 
----Siti Jayanti---

****
Ketika masalah Papua muncul, publik di luar Papua selalu dicecoki dengan informasi sepihak dari penguasa dan kaum opurtinis, sehingga mereka merespon aspirasi mahasiswa Papua di luar Papua dengan cara yang salah. Aparat menjaga diri mereka agar tidak dituduh melanggar HAM maka mereka merekrut anak muda dan kelompok preman untuk melawan dan bertindak anarkis sehingga mahasiwa Papua kadang direndahkan. Buku ini, Prabowo dan Tantangan penyelesaian Konflik Papua semakin memperjelas bahwa apa yang dulu yakni kekerasan itu masih ada dan hanya dengan casing model baru. Oleh sebab itu perlawanan yang susah dibendung adalah membagi buku ini sebagai bagian dari Solidaritas Perjuangan Papua."
----Saleh Adullah..Makasar---

***
"Buku "Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua" menjadi pelita yang menyinari kegelapan yang selama ini ditutupi oleh penguasa".
---Henrykus Sihaloho---

***
Buku ini saya terima dan baca dan isinya semua penderitaan, air mata kita diramu dalamnya. Luar biasa. Salut. Suara emas, otak cerdas yang memikirkan nasib bangsanya".
---Jendi Smas---

***
"Buku ini membantu kami memahani konflik Papua yang sebenarnya selama ini. Kita selalu racuni informasi bahwa pihak asing yang bermain, masyarakat tidak puas. Ternyata terbalik, bahwa sejarah yang tidak benar dan perlakuan negara dalam hal ini Aparat TNI dan POLRI serta Pejabat daerah yang arogan dalam tindakan mereka. Kerasukan pejabat negara membuat nyawa orang Papua melayang, SDA membuat pejabat mata gelap dan terjadi konspirasi gelap untuk aparat keamanan menjaga segala proyek entah tambang atau izin hutan dengan dalil menjaga kedaulatan negara". ---Dahlan Sunaryo----

***
"Buku ini menampar wajah kita semua orang Indomesia, mengetuk hati kita apakah kita biarkan manusia Papua dibantai seakan tidak punya harga diri?
..jangan kita mencoba untuk mencari teori pembenaran yang tidak berdasar. Rasanya kalau Lepaskan Papua itu tidak masalah sebab kita masih bertetangga dan biarlah mereka menikmati apa yang pernah orang tua mereka nikmati. 
---Arifin Mahendra---

***
"....buku inilah yang mempengaruhi pikiran kita tentang masalah Papua....
---Yahya Latief...Jakarta----

***
....buku ini membawa kita menyelami lebih dalam hal yang hakiki soal Papua". 
    ------Mikzan Sulfikri----

***
....pilihan terbaik dan bermartabat adalah kembalikan kedaulatan Papua yang pernah ada kepada mereka supaya mereka mengatur hidup mereka sendiri". 
 ----Suwito---

****
....membaca buku ini kita memiliki pemahaman yang utuh soal Papua, kita digiring kepada pengetahuan yang falid dan benar soal Papua....---Pratiwi Nusantiani--

***
"Buku yang tidak boleh disia-siakan adalah buku ini. Buku ini harus dibaca oleh Menteri HAM dan Menteri Dalam Negeri terutama Presiden....
  ---Yuyuk Nugraha---

***
"Buku ini bukan tentang Prabowo, tetapi tentang Papua. Apa itu? (1) Sejarah Integrasi yang cacat, rusak dan dipaksakan. (2) Pengalaman hidup orang Papua sejak Integrasi sampai saat ini adalah kehidupan yang jauh dari kata ideal. Perlakuan masyarakat Indonesia yang Rasis dan Perlakuan aparat keamanan yang jahat. 
-----By Adul Karim----'

***
"Buku berjudul "Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua" tentang konflik Papua yang tidak hanya dipahami sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai krisis keadilan, kemanusiaan, dan dialog politik yang belum tuntas".------Taufik-----

****
....buku ini menikam semakin dalam dan tajam. Buktinya banyak orang lintas suku dan agama berdiri. Kami akan tetap solider tanpa suara dan tidak kelihatan untuk Papua".
----Ahmad Tabroni----

***
“ ....buku ada analisisnya sangat tajam mengenai aspek politik keamanan dan ekonomi. Buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang ingin memahami dinamika Papua....".-----Allan----

***
“Buku ini membuka banyak sudut pandang yang selama ini jarang dibahas secara mendalam soal realitas sosial-budaya, ekonomi dan politik yang berkelindan dengan pendekatan militer di tanah Papua...."-----Agus-----

***
"Buku yang ditulis Bapak Socratez Yoman ini memberikan ruang bagi pembaca di luar Papua untuk melihat gambaran besar persoalan yang sering disederhanakan media arus utama...."
 -----Dedi----
***
....buku ini benar-benar lengkap dengan dokumen dan fakta sejarah. Buku Edisi Revisi kali ini, lebih mematikan. Luar biasa". --Yance Luther Rawar---

***
"Secara keseluruhan, buku ini penting untuk menempatkan konflik Papua dalam perspektif kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab negara. ... masa depan Papua tidak dapat dibangun dengan senjata dan stigma, melainkan dengan keberanian moral, dialog, dan penghormatan terhadap martabat manusia". ----Ananda----

***
"Prabowo dihadapkan pada pilihan: melanjutkan paradigma lama yang menekankan pendekatan keamanan, atau melakukan terobosan dengan mengedepankan dialog, rekonsiliasi, dan keadilan substantif bagi orang asli Papua". ----Damar----

***
Buku ini refleksi kritis atas persoalan Papua yang selama ini dipersempit sekedar konteks keamanan. ... konflik Papua bukan persoalan separatisme semata, melainkan konflik struktural yang berakar pada sejarah integrasi, ketidakadilan ekonomi, pelanggaran HAM, diskriminasi rasial, dan kegagalan pembangunan yang berkeadilan. Buku ini mengingatkan bahwa stabilitas semu yang dibangun di atas ketakutan justru memperpanjang siklus kekerasan dan ketidakpercayaan masyarakat Papg
Pemutaran Film Pesta Babi yang bercerita tentang eksploitasi lingkungan, khususnya di Papua, dibubarkan paksa di sejumlah daerah. 

Sutradara film ini, Dandhy Dwi Laksono menggambarkan situasi ini sebagai bentuk "menguji demokrasi kita". "Makin ditekan akan makin kami perpanjang musim nobarnya (nonton bareng)," katanya.

Sementara, sutradara Cypri Dale, mengatakan, "Pesta Babi bukan film untuk ditonton saja dengan mata. Pesta Babi adalah film yang menuntut jawaban".

Watchdog melaporkan setidaknya 21 kali "intimidasi serius" selama pemutaran film Pesta Babi di berbagai daerah di Indonesia. 

Intimidasi ini berupa telepon pihak keamanan, dipantau langsung intelijen keamanan, permintaan identitas penyelenggara hingga tindakan pembubaran acara secara paksa.

Menteri HAM, Natalius Pigai juga menolak pembubaran dan pelarangan pemutaran Film Pesta Babi. Kata dia, larangan pemutaran film baru bisa dilakukan melalui putusan pengadilan.

"Larangan itu hanya boleh melalui keputusan pengadilan. Apakah ada keputusan pengadilan? Tidak. Berarti kan tidak boleh (seperti itu)," katanya.

Pesta Babi film tentang apa?

Apa tujuan yang ingin dicapai dari produksi Film Pesta Babi?

Siapa di balik pembubaran Film Pesta Babi, dan apa alasannya?

Kenapa Film Pesta Babi mendapat intimidasi dan pembubaran paksa?

Bagaimana pola intimidasi film dokumenter dari masa ke masa?

Apa saja motif rezim mengendalikan film?

Bagaimana semestinya menempatkan film bermuatan kritik?

Silakan membaca artikel lengkapnya: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn8p5vd21q8o
Rumah dari Keringat Sendiri :
Oleh
Agus Sumule
Universitas Papua

PENDAHULUAN
Salah satu persoalan sosial yang paling mendasar di banyak kota di Papua dan Papua Barat adalah persoalan perumahan layak bagi masyarakat miskin perkotaan, khususnya Orang Asli Papua (OAP). Di balik gedung pemerintahan, pasar modern, pertokoan, dan perkembangan ekonomi kota, masih banyak keluarga OAP yang hidup di rumah sempit, padat, tidak sehat, dan sering kali dihuni beberapa keluarga sekaligus. Situasi ini bukan sekadar soal tempat tinggal, tetapi menyangkut martabat, kesehatan, keamanan, dan masa depan generasi muda.

Persoalan tersebut sesungguhnya memiliki akar sejarah panjang. Banyak keluarga OAP merupakan penduduk asli kawasan perkotaan yang telah tinggal turun-temurun di pusat-pusat kota sejak masa kolonial dan awal integrasi Papua ke Indonesia. Namun seiring pertumbuhan kota, mereka justru tersisih secara ekonomi, tidak memiliki pekerjaan tetap, dan tidak mampu mengakses perumahan formal yang semakin mahal.

Karena itu, diperlukan sebuah kebijakan baru yang berpihak: program perumahan murah berbasis cicilan harian, di mana masyarakat miskin OAP memperoleh rumah melalui usaha sendiri, sementara pemerintah menyediakan tanah dan infrastruktur dasar. Ini bukan program belas kasihan, melainkan program keadilan sosial.

KETIMPANGAN HISTORIS YANG PERLU DIJAWAB

Dalam sejarah pembangunan nasional, negara pernah menjalankan program transmigrasi yang memberi dukungan sangat besar kepada pendatang dari luar Papua: lahan dua hektar, rumah tinggal, jaminan hidup beberapa bulan, serta sarana produksi pertanian. Program itu dibangun dengan keyakinan bahwa rakyat kecil perlu dibantu agar mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Namun ironisnya, banyak OAP di kota-kota justru tidak memperoleh perlakuan serupa. Mereka hidup di tanah leluhur sendiri, tetapi kesulitan memiliki rumah layak. Mereka tinggal di kota, tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian dari ekonomi kota. Mereka menyaksikan pembangunan, tetapi sering tidak menikmati hasil pembangunan.

Kondisi ini menuntut koreksi kebijakan yang nyata dan berani.

PRINSIP DASAR PROGRAM PERUMAHAN MURAH OAP

Program yang diusulkan bertumpu pada satu gagasan sederhana: rumah bukan diberikan gratis, tetapi dimiliki melalui cicilan kecil yang realistis dan   terjangkau.  Dengan demikian, masyarakat memperoleh rumah melalui jerih payah sendiri, sementara negara hadir sebagai fasilitator.

Prinsip-prinsip dasarnya adalah sebagai berikut :
1. Tanah Disediakan Pemerintah Secara Gratis
Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota wajib menyediakan lahan yang memadai di dalam wilayah kota. Masyarakat miskin tidak dibebani harga tanah. Ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial: jika negara pernah menyediakan lahan luas bagi transmigran, maka OAP pun layak memperoleh dukungan yang setara.
2. Infrastruktur Dibangun Terlebih Dahulu
Sebelum rumah dibangun, kawasan harus dimatangkan melalui:
• jalan lingkungan yang baik,
• air bersih,
• listrik,
• drainase,
• pengolahan limbah rumah tangga,
• ruang terbuka hijau,
• klinik sederhana,
• pasar lingkungan,
• tempat ibadah, dan fasilitas sosial lain.
Artinya, masyarakat miskin tidak dipindahkan ke kawasan kumuh baru, tetapi ke permukiman sehat dan manusiawi.
3. Rumah Dibangun Sederhana tetapi Fungsional
Rumah tahap awal dapat berupa Type 36, dengan:
• satu ruang tamu,
• dua kamar tidur kecil,
• dapur sederhana,
• kamar mandi/WC,
• dinding belum diplester penuh,
• plafon belum selesai,
• lantai semen kasar,
• struktur bangunan kuat dan aman.
Konsep ini penting agar harga rumah ditekan serendah mungkin. Rumah awal adalah pondasi hidup, bukan bentuk akhir.
4. Lahan Tidak Sempit
Setiap rumah memperoleh kavling cukup luas, misalnya:
• 20 x 20 meter, atau
• 25 x 25 meter.
Dengan lahan memadai, keluarga dapat memperbesar rumah, menanam tanaman pangan, memelihara ternak kecil, membuka kios, atau usaha rumah tangga lain.
5. Cicilan Harian yang Ringan
Pembayaran dilakukan harian, misalnya Rp10.000 per hari.
Skema sederhana:
• per hari: Rp10.000
• per bulan: ± Rp300.000
• per tahun: ± Rp3.600.000
• 10 tahun: ± Rp36.000.000
Jumlah ini relatif terjangkau bahkan bagi pekerja informal: penjual pinang, buruh harian, ojek, pedagang kecil, atau pekerja lepas.

MENGAPA CICILAN HARIAN SANGAT COCOK ?

Banyak keluarga miskin perkotaan tidak menerima gaji bulanan. Penghasilan mereka bersifat harian dan kecil-kecil. Karena itu, sistem kredit bank biasa sering gagal menjangkau mereka.

Sebaliknya, cicilan harian lebih sesuai dengan ritme ekonomi rakyat kecil. Jika seseorang menjual satu tumpuk pinang, mendapat upah buruh sehari, atau menarik ojek beberapa kali, maka sebagian kecil penghasilannya bisa langsung dialokasikan untuk rumah.

Dengan cara ini, rumah tidak terasa sebagai beban besar, tetapi sebagai tabungan harian menuju masa depan.

PERAN YAYASAN ATAU LEMBAGA SOSIAL PENGELOLA

Program ini memerlukan lembaga pengelola yang profesional dan dipercaya masyarakat, misalnya yayasan sosial atau badan layanan khusus.

Tugasnya:
• menagih cicilan harian secara tertib,
• mencatat pembayaran secara transparan,
• mendampingi keluarga yang mengalami kesulitan,
• membina lingkungan sosial,
• membantu mediasi konflik antarwarga,
• menghubungkan warga dengan pelatihan kerja dan usaha kecil.
Dengan demikian, lembaga ini bukan sekadar penagih uang, tetapi pendamping transformasi sosial.

LOKASI HARUS DI DALAM KOTA

Ini prinsip yang sangat penting. Banyak keluarga OAP miskin adalah masyarakat kota sejak lama. Mereka hidup dari akses ke pasar, terminal, pelabuhan, pertokoan, dan ekonomi informal perkotaan.
Karena itu, perumahan tidak boleh dibangun jauh di pinggiran apalagi di luar kota. Jika dipindahkan terlalu jauh, mereka justru kehilangan akses penghidupan.
Mereka berhak tetap menjadi warga kota, tetapi dalam kondisi yang lebih baik dan produktif.

DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI YANG DIHARAPKAN

Jika program ini dijalankan serius, dampaknya akan sangat besar:
1. Menurunkan Kriminalitas_
Kepadatan rumah tangga, pengangguran, frustrasi sosial, dan ketiadaan masa depan sering menjadi latar belakang kriminalitas. Rumah layak dan lingkungan sehat akan mengurangi tekanan sosial.
2. Memperkuat Keluarga_
Keluarga muda dapat hidup mandiri, tidak menumpuk di rumah orang tua.
3. Menumbuhkan Usaha Kecil_
Dengan lahan cukup luas, warga bisa membuka kios, bengkel kecil, warung makan, atau kebun rumah tangga.
4. Meningkatkan Harga Diri_
Memiliki rumah hasil cicilan sendiri menumbuhkan rasa bangga, disiplin, dan optimisme.
5. Menciptakan Kota yang Lebih Adil
Kota tidak hanya milik kaum pendatang, pegawai, pedagang besar, dan investor, tetapi juga milik rakyat kecil asli Papua.

STRATEGI PELAKSANAAN BERTAHAP

Program dapat dimulai melalui proyek percontohan:
Tahap 1: 100 rumah di satu kota
Tahap 2: evaluasi model pembayaran dan kualitas bangunan
Tahap 3: perluasan ke kota lain seperti Jayapura, Manokwari, Sorong, Timika, Nabire, Merauke, Wamena, Biak, Fakfak, dan lain-lain.

Pendanaan dapat berasal dari:
• APBD,
• Dana Otonomi Khusus,
• CSR perusahaan,
• hibah lembaga sosial,
• dukungan kementerian perumahan.

PENUTUP

Orang Asli Papua tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan yang adil. Mereka membutuhkan sistem yang memahami cara hidup dan pola ekonomi mereka. Mereka membutuhkan rumah yang bisa dimiliki dengan tenaga sendiri.

Program perumahan murah berbasis cicilan harian adalah jalan tengah yang bermartabat: negara hadir menyediakan tanah dan infrastruktur, rakyat hadir dengan kerja keras dan komitmen membayar.

Bila ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka ribuan keluarga miskin Papua di kota-kota akan memiliki masa depan baru. Anak-anak tumbuh di rumah yang sehat. Orang tua hidup dengan tenang. Orang-orang muda, laki-laki dan perempuan, memiliki harapan.

Dan dari rumah-rumah sederhana itulah, kota-kota Papua yang lebih adil akan dibangun.
Nabire — DPR Provinsi Papua Tengah mempertanyakan implementasi Pasal 4 Ayat (4) Undang-Undang Otonomi Khusus (UU Otsus) Papua terkait perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PT Freeport Indonesia hingga tahun 2061. Sikap tersebut muncul menyusul kesepakatan perpanjangan kontrak dan skema divestasi saham yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto di Washington D.C., Amerika Serikat, pada Rabu (18/2/2026).

Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, menyatakan bahwa meskipun kebijakan tersebut berdampak positif bagi ekonomi nasional, terdapat prosedur hukum di wilayah Otsus yang tidak boleh diabaikan. Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan strategis di Papua wajib mengacu pada aturan khusus yang berlaku.

Gobai menambahkan, karena wilayah operasi Freeport berada di Kabupaten Mimika, maka Pemerintah Provinsi Papua Tengah harus dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. Pelibatan ini dinilai penting untuk menjamin kepentingan daerah, masyarakat adat, serta keberlanjutan pembangunan di Papua Tengah.

#ptfi #divestasi #freeportMcMoran
Di sebuah lembah sunyi di pegunungan Papua, di Kampung Mamit, Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara, pada 27 Juli 1967 lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak dikenal banyak orang: Lukas Enembe.

Namun sebelum ia dikenal sebagai pejabat, ia hanyalah seorang anak kampung—berjalan tanpa alas kaki di tanah merah, menembus kabut pagi yang turun perlahan dari punggung gunung.

Bab I Anak dari Pegunungan

Lukas kecil tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara. Rumahnya berdinding papan, beratap seng yang berisik setiap kali hujan turun. Di malam hari, suara angin yang menyusup dari celah dinding menjadi nyanyian panjang yang menemani tidurnya.

Ibunya sering berkata,
“Sekolah yang tinggi, nak. Jangan tinggal di gunung terus. Dunia lebih luas dari lembah ini.”

Kata-kata itu melekat seperti doa.
Ia berjalan berkilo-kilo meter untuk sekolah. Jalan berbatu, hujan, dingin, kadang lapar. Tetapi di matanya selalu ada nyala yang berbeda—keinginan untuk keluar, untuk kembali suatu hari nanti membawa perubahan.

Bab II Merantau dan Bermimpi

Waktu membawanya jauh dari pegunungan. Ia menyeberang lautan, belajar di bangku kuliah di Manado. Dunia terasa asing, tetapi ia bertahan. Ia belajar ilmu pemerintahan, berbicara tentang politik, tentang pembangunan, tentang harapan.

Di asrama yang sederhana, ia sering termenung.
“Suatu hari, saya harus kembali,” gumamnya.
Ia ingin membangun jalan agar anak-anak tidak lagi berjalan jauh. Ia ingin gedung sekolah berdiri di kampung-kampung terpencil. Ia ingin orang-orang pegunungan merasa diperhatikan.
Mimpi itu membawanya kembali ke Papua.

Bab III Tangga Kekuasaan

Kariernya menanjak. Dari birokrat, menjadi Wakil Bupati, lalu Bupati, hingga akhirnya ia duduk di kursi tertinggi sebagai Gubernur Papua pada 2013.
Nama Lukas Enembe disebut-sebut di kampung dan kota. Spanduk, baliho, sambutan meriah. Ia berdiri di podium-podium besar, berbicara tentang pembangunan, tentang harga diri orang Papua, tentang masa depan.

Di masa kepemimpinannya, jalan dibuka, gedung-gedung dibangun, stadion megah berdiri. Banyak yang memuji. Banyak pula yang bertanya.
Namun di balik jas rapi dan senyum resmi, tubuhnya mulai melemah. Penyakit datang perlahan—sunyi, tak terlihat publik.

Bab IV Bayang-Bayang Tuduhan

Tahun-tahun terakhir menjadi masa yang berat.
Kasus hukum menyeret namanya. Tuduhan suap dan gratifikasi datang dari pusat kekuasaan. Sorotan kamera tak lagi tentang pembangunan, melainkan tentang penyidikan.
Ia ditangkap pada Januari 2023.

Di ruang tahanan yang dingin, mungkin untuk pertama kalinya sejak lama, ia sendirian tanpa sorak-sorai. Hanya suara langkah penjaga dan detak waktu.

Sebagian orang marah. Sebagian menangis. Sebagian lagi memilih diam.
Papua terbelah dalam pendapat.

Bab V Hari-Hari Terakhir

Tubuhnya semakin lemah. Penyakit ginjal yang lama dideritanya kian parah. Ia dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Di ruang rumah sakit yang sunyi, tak ada lagi panggung politik. Tak ada lagi podium. Hanya napas yang sesekali berat.

26 Desember 2023, kabar itu datang: Lukas Enembe meninggal dunia.
Di tanah Papua, kabut seolah turun lebih tebal hari itu. Tangis terdengar di beberapa sudut kota. Di kampung-kampung, orang berbicara lirih tentang perjalanan seorang anak gunung yang pernah mencapai puncak kekuasaan—dan jatuh dalam badai.

**Epilog

Antara Cahaya dan Luka**
Hidupnya adalah kisah tentang mimpi besar seorang anak pegunungan. Tentang kekuasaan yang tinggi dan cobaan yang lebih tinggi lagi. Tentang pujian dan tudingan yang berjalan berdampingan.
Ia bukan kisah yang hitam sepenuhnya.

Ia bukan pula putih sepenuhnya.
Ia adalah manusia—dengan ambisi, harapan, kelemahan, dan akhir yang sunyi.
Di lembah Tolikara, mungkin ada seorang anak kecil lain yang sedang berjalan menyusuri jalan berbatu menuju sekolah. Mungkin ia juga menyimpan mimpi yang sama besarnya.

Dan sejarah akan selalu mengingat:
bahwa dari gunung yang sunyi, pernah lahir seorang anak bernama Lukas.

***

Oleh : w.T Kaibou Doo
KONFERENSI PERS
SOLIDARITAS MERAUKE

Waninggap usus namik ..
Hari ini Junat 20 Februari 2026.

Kami Solidaritas Merauke menyatakan sikap penolakan atas proyek pembangunan jalan akses 
sepanjang 135 kilometer di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.Pada tanggal 11 

September 2025, Bupati Merauke menetapkan Keputusan Bupati Merauke Nomor 
100.3.3.2/1105/Tahun 2025 tentang Kelayakan Lingkungan Hidup Rencana Kegiatan 

Pembangunan Jalan Akses Sepanjang 135 KM sebagai Sarana dan Prasarana Ketahanan Pangan di Kabupaten Merauke oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembangunan jalan tersebut telah dimulai sejak akhir November 2024, jauh sebelum terbitnya keputusan kelayakan lingkungan 
tersebut. Hingga saat keputusan diterbitkan, pembangunan telah mencapai sekitar 50 kilometer.

Berdasarkan hasil pemantauan Solidaritas Merauke, pembangunan koridor jalan ini telah menyebabkan deforestasi hutan alam seluas 8.691 hektar. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas pembangunan dilakukan tanpa persetujuan lingkungan yang sah, serta tanpa dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) maupun UKP-UPL sebagaimana diwajibkan 
oleh peraturan perundang-undangan.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait tata kelola pemerintahan, kepatuhan terhadap hukum lingkungan, serta perlindungan terhadap hutan alam dan hak-hak masyarakat adat di Merauke.

Solidaritas Merauke mendesak: 
1. Menggawal Perjuangan Masyarakat Adat dalam Gugatan Sk Bupati Merauke Nomor 
100.3.3.2/1105/Tahun 2025 Tentang Rencana Pembagunan Jalan 135 Km Wanam Muting
2. Medesak penyelesain Konflik Sosial yang di Alami Oleh Masyarkat adat Marga 
Kamuyem di Kampung Nakias distrik Ngguti kabupaten Merauke
3. Mendesak Apparat Militer Untuk mengentikan tindakan intimidasi terhadap warga sipil 
yang menjadi korban Program Strategis Nasional Merauke
4. Sikap Solidaritas Merauke dengan Tegas Menolak Program Strategis Nasional Merauke
Salam Perjuangan
 A Luta Continua 
Perjuangan Terus Berlanjut
Merauke, 20 Februari 2026

Tim Solidaritas Merauke
Yakobus Gebze
Cambu Gerry
PANIAI, Pena Katolik – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, melontarkan kritik keras terhadap arah kebijakan pembangunan nasional yang dinilai merugikan rakyat kecil dan merusak lingkungan.

Seruan ini disampaikan dalam khotbah pembukaan Musyawarah Pastoral (Muspas) Mee VIII di Kabupaten Paniai, Papua Tengah, 2 Januari 2026, yang dihadiri ribuan umat dan tamu undangan. Uskup Bernardus menegaskan bahwa hakikat kepemimpinan, baik di gereja maupun negara, adalah melayani rakyat, bukan menindas.

Ia menggambarkan Yesus Kristus sebagai “jalan utama”, sementara para pemimpin seharusnya menjadi “jalan kecil” yang memudahkan masyarakat menuju keadilan. Dalam khotbahnya, ia menyoroti Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke serta ekspansi perkebunan kelapa sawit di Papua yang memicu keresahan publik.

“Rakyat menderita akibat kebijakan oligarki yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Jika pembangunan hanya menguntungkan segelintir orang, itu bukan kebijakan keadilan,” tegasnya.

Uskup Bernardus mengingatkan bahwa kebijakan yang merusak manusia dan alam berarti kehilangan nilai ilahi. Ia menekankan bahwa penguasa wajib membuka ruang dialog dan mendengarkan suara rakyat, dengan prinsip Vox Populi, Vox Dei – suara rakyat adalah suara Tuhan – sebagai dasar pengambilan keputusan.

Di akhir khotbah, ia mengajak keluarga Kristiani meneladani Maria dan Yusuf dalam membentuk karakter generasi muda. Melalui Muspas Mee VIII, ia berharap gereja dan pemerintah kembali menjadi pelayan masyarakat, khususnya bagi warga adat yang terdampak proyek berskala besar.

https://penakatolik.com/2026/02/03/uskup-timika-kritik-psn-kepentingan-oligarki/

#DominikanID #OrdoPewarta #Veritas #komsos #kwi #keuskupan #ordopewarta #ordodominikan #dominikanawam #dominikanid #omk #kaj #vatikan #pope #gerejakatolik #kwi #pausleoxiv #popeleoxiv #vatican #keuskupan #ignatiussuharyo #agustinusagus #fiatvoluntastua #santafaustina #carloascutis #padrepio
#motherteresa