Universitas Cenderawasih (UNCEN) di Jayapura tidak berdiri sekadar sebagai institusi pendidikan tinggi biasa. Ia lahir dari kebutuhan sejarah yang mendesak: kebutuhan Papua untuk memiliki ruang belajar, ruang berpikir, dan ruang membentuk masa depan sendiri. Berdirinya UNCEN pada tahun 1962 harus dibaca bukan hanya sebagai peristiwa administratif, tetapi sebagai bagian dari perubahan besar politik, sosial, dan identitas Papua di tengah arus sejarah Indonesia dan dunia.
Pada masa itu, Papua berada di persimpangan sejarah. Transisi kekuasaan dari Belanda menuju integrasi dengan Indonesia menciptakan kebutuhan mendesak akan sumber daya manusia lokal yang terdidik. Pendidikan tinggi menjadi alat strategis — bukan hanya untuk mencetak pegawai, tetapi untuk membentuk generasi Papua yang mampu membaca zamannya. UNCEN lahir dari kesadaran bahwa Papua tidak bisa terus bergantung pada tenaga luar; Papua membutuhkan anak-anaknya sendiri untuk memimpin pembangunan.
Alasan utama berdirinya UNCEN sangat jelas: pendidikan adalah fondasi kemandirian. Tanpa kampus di tanah sendiri, generasi muda Papua harus pergi jauh untuk belajar — sesuatu yang pada masa itu tidak mudah secara ekonomi maupun sosial. Kehadiran UNCEN membuka akses. Ia menjadi simbol bahwa orang Papua berhak mendapatkan pendidikan tinggi di tanahnya sendiri, tanpa harus meninggalkan akar budaya dan komunitasnya.
Namun lebih dari itu, UNCEN juga membawa misi yang lebih dalam: menjadi jembatan antara dunia modern dan kearifan lokal Papua. Kampus ini tidak hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi ruang dialog antara tradisi dan modernitas. Dalam konteks Papua yang sangat kaya budaya, pendidikan tinggi seharusnya tidak memutus identitas, melainkan memperkuatnya. UNCEN memiliki tanggung jawab historis untuk memastikan bahwa kemajuan tidak berarti kehilangan jati diri.
Opini ini penting karena kita sering melihat kampus hanya sebagai gedung dan birokrasi. Padahal, kampus adalah ruang politik pengetahuan. UNCEN adalah tempat lahirnya pemikir, guru, aktivis, birokrat, dan pemimpin Papua. Dari ruang-ruang kelasnya tumbuh wacana tentang keadilan, pembangunan, identitas, dan masa depan tanah Papua. Ia menjadi arena di mana generasi muda belajar bukan hanya untuk bekerja, tetapi untuk memahami posisi Papua dalam peta nasional dan global.
Tantangan hari ini adalah menjaga agar UNCEN tetap setia pada alasan kelahirannya. Kampus ini tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari masyarakat. Ia harus tetap berpihak pada kebutuhan rakyat Papua: pendidikan yang relevan, riset yang menyentuh persoalan lokal, dan pengabdian yang nyata. Jika UNCEN kehilangan hubungan dengan realitas sosial di sekitarnya, maka ia akan kehilangan makna sejarahnya.
Pada akhirnya, berdirinya UNCEN adalah pernyataan bahwa Papua tidak hanya objek pembangunan, tetapi subjek sejarah. Kampus ini adalah simbol harapan bahwa masa depan Papua dapat ditulis oleh orang Papua sendiri. Dan selama UNCEN terus menjadi ruang kritis, inklusif, dan berakar pada masyarakatnya, ia akan tetap menjadi salah satu pilar terpenting dalam perjalanan panjang Papua menuju kemandirian intelektual.
***

Post A Comment:
0 comments: