Articles by "Tolikara"
Showing posts with label Tolikara. Show all posts
LAPORAN LENGKAP
 
Judul: Kebersamaan & Kesadaran: Tolikara Menyaksikan Kebenaran Pesta Babi
Penulis: Pende Mirin S.Ak
Tanggal Kegiatan: 4 Juni 2026
Lokasi: Kabupaten Tolikara, Pegunungan Tengah Papua
 
 
 
📸 GAMBARAN MOMEN BERSAMA
 
Di bawah langit yang terbentang luas, dengan latar belakang pegunungan megah dan lembah hijau khas tanah Tolikara, terlihat pemandangan yang luar biasa: ribuan warga dari berbagai usia, suku, dan latar belakang duduk berdesak-desakan, tenang, dan penuh perhatian. Mata mereka semua tertuju pada satu layar besar yang memutar film dokumenter PESTA BABI.
 
Di sudut kanan atas, burung Cenderawasih bertengger indah — simbol kebebasan dan identitas tanah ini — seolah turut menyaksikan, mengawasi, dan menjadi saksi bisu atas apa yang sedang terjadi. Di bawahnya tertulis jelas:
 
“PESTA BABI — Dokumenter yang Menyentuh Realitas di Tanah Papua”
 
Ini bukan sekadar acara nonton bersama. Ini adalah momen bersejarah. Ini adalah bukti bahwa apa yang terekam dalam film itu bukan sekadar cerita asing, melainkan cerita hidup, cerita luka, dan cerita perjuangan yang dirasakan oleh seluruh orang Papua, termasuk saudara-saudara kami di pegunungan ini.
 
 
 
📌 MAKNA ACARA: MENGAPA TOLIKARA PENTING?
 
Banyak orang bertanya: “Kenapa harus di Tolikara? Daerah pegunungan, jauh dari pantai, jauh dari lokasi proyek sawit atau lumbung pangan di selatan.”
 
Jawabannya ada di dalam hati kami semua: Luka budaya dan ancaman hilangnya tanah adat bukan hanya milik orang Muyu, Marind, atau Awyu di selatan. Itu adalah luka seluruh Orang Asli Papua — dari ujung selatan sampai ujung utara, dari pantai sampai puncak gunung.
 
✅ Persamaan Nasib:
Warga Tolikara, masyarakat Lembah Baliem, dan seluruh suku di pegunungan memiliki hubungan yang sama persis dengan tanah dan hutan seperti saudara kami di Merauke atau Boven Digoel. Bagi kami:
 
Tanah adalah Ibu, hutan adalah hidup, dan adat adalah nafas kami.
 
Ketika mereka melihat di layar bagaimana hutan dibabat, bagaimana tanah diambil paksa, bagaimana ritual sakral Awon Atatbon (Pesta Babi) terancam mati karena alam rusak… warga Tolikara tidak melihat “orang lain”. Mereka melihat diri mereka sendiri 10 atau 20 tahun ke depan jika kebijakan pembangunan yang salah itu terus merambah naik ke pegunungan.
 
✅ Solidaritas Tanpa Batas:
Kehadiran ribuan orang ini adalah teriakan persaudaraan:
 
“Apa yang menyakitkan saudara kami di selatan, menyakitkan kami juga. Apa yang menjadi ancaman bagi mereka, adalah bahaya bagi kami semua.”
 
 
🎬 REAKSI WARGA: DARI AIR MATA SAMPAI TEKAD BANGKIT
 
Pengamatan saya langsung di lokasi menunjukkan suasana yang sangat haru namun penuh semangat:
 
1. Hening Mendalam:
Saat adegan menunjukkan hutan gundul, sungai keruh, dan warga yang menangis kehilangan tanah, ribuan orang itu diam seribu bahasa. Hanya suara angin dan suara narasi film yang terdengar. Banyak yang meneteskan air mata. Bukan karena sedih semata, tapi karena terkaget, marah, dan merasa dipermainkan.
“Jadi benar ya… tanah kami dianggap kosong, lalu diambil seenaknya?” — gumam seorang bapak tua sambil mengelus dada.
2. Pengakuan Bersama:
Banyak warga mengaku: “Kami dengar-dengar ada masalah di selatan, tapi kami tidak tahu separah ini. Ternyata mereka sudah sampai di situ, sudah mengambil sebanyak itu, dan sudah merusak sedalam ini.”
Film ini menjadi jembatan kebenaran yang menghubungkan fakta yang selama ini ditutup-tutupi agar tidak saling tahu.
3. Tekad: “Jangan Sampai Di Sini Terjadi”
Reaksi terbesar muncul di akhir pemutaran. Bukan keputusasaan, tapi kemarahan yang berubah menjadi kewaspadaan tinggi.
“Mereka habiskan hutan di selatan, sekarang pasti mau naik ke sini. Tolikara, Lembah Baliem, Pegunungan Tengah adalah sasaran berikutnya. Kita harus siap menjaga batas, menjaga adat, dan menjaga tanah ini lebih kuat lagi.”
 
Inilah tujuan utama film ini: Bukan hanya menunjukkan luka yang sudah ada, tapi membangun benteng agar luka itu tidak menular ke tempat lain.
 
 
🕊️ SESUAI PESAN PASTOR JHON BUNAY
 
Acara di Tolikara ini sangat selaras dengan apa yang disampaikan Pastor Jhon Bunay sebelumnya:
 
“Pesta Babi adalah simbol budaya yang terluka… tapi luka itu adalah tanda untuk bangkit.”
 
Di Tolikara, kita melihat bukti nyata pesan itu:
 
- Mereka melihat luka saudara mereka.
- Mereka sadar itu bahaya bagi diri mereka.
- Mereka bersatu untuk menjaga agar hal yang sama tidak menimpa mereka.
 
Film ini tidak memecah belah. Film ini menyatukan. Ia menjadi satu-satunya dokumen nyata yang dipegang bersama oleh seluruh suku di Papua untuk membuktikan: Ada kesengajaan menghapus budaya dan mengambil hak kami.
 
“Pesta Babi bukan akhir. Ini awal kita berkumpul.” — dan ribuan warga Tolikara yang hadir adalah bukti perkumpulan itu.

 
⚠️ TANTANGAN: KENAPA ACARA INI PENTING DAN BERISIKO?
 
Kita tahu betul, pemutaran film ini tidak disukai banyak pihak. Sudah ada upaya menghalangi, ada tuduhan, ada tekanan. Tapi ribuan warga Tolikara tetap datang, tetap duduk, tetap menonton.
 
Mengapa mereka berani?
Karena mereka sadar: Bahaya yang datang dari luar (perampasan tanah) jauh lebih mengerikan daripada risiko menonton kebenaran.
 
Acara ini juga menjawab kekhawatiran saya sebelumnya: “Apakah suara orang Papua akan dibungkam dan bisu?”
JAWABANNYA: TIDAK.
Di Tolikara, suara itu bergema kencang. Di Tolikara, kebenaran itu ditonton ribuan orang. Di Tolikara, kami menunjukkan bahwa meski akses wartawan ditutup, meski informasi disensor, kami punya cara sendiri untuk saling tahu dan saling jaga.
 
 
✅ KESIMPULAN: TOLIKARA ADALAH CONTOH SELURUH PAPUA
 
Momen 4 Juni 2026 di Tolikara ini akan tercatat sebagai salah satu hari penting dalam sejarah perjuangan rakyat Papua.
 
1. Film Pesta Babi telah berhasil menyatukan kami. Ia melintasi batas suku, batas wilayah, dan batas adat. Ia menjadi bahasa bersama kami: Bahasa tanah yang dirampas, bahasa budaya yang disakiti, bahasa hak yang dituntut kembali.
2. Pegunungan Tengah adalah Benteng Pertahanan Terakhir. Kehadiran ribuan warga ini memberi pesan keras kepada siapa saja yang berniat memperluas proyek dan kerusakan ke arah sini: Warga sudah tahu, warga sudah siap, dan warga tidak akan membiarkan apa yang terjadi di selatan terulang di sini.
3. Kebenaran Tidak Bisa Dibungkam. Mau dilarang, mau dituduh, mau ditekan… selama masih ada tanah yang dijaga, selama masih ada warga yang peduli, selama masih ada Cenderawasih yang terbang bebas di atas hutan kami — Pesta Babi akan terus diputar, kebenaran akan terus disuarakan, dan perjuangan hak kami tidak akan mati.
 
Terima kasih Tolikara, karena telah membuktikan: Saat kebenaran ditayangkan, seluruh orang Papua akan datang duduk bersama, melihat, dan bersatu melindungi warisan leluhur.
 
,Tolikara menjaga tanahnya, dan seluruh Papua menjaga kebenarannya.
 
Pende Mirin S.Ak